Postingan

Menampilkan postingan dengan label ekonomi Islam

Satu Juta Sarjana Menganggur, Bukti Kegagalan Negara Menciptakan Kesejahteraan

Gambar
  Satu Juta Sarjana Menganggur, Bukti Kegagalan Negara Menciptakan Kesejahteraan Oleh: Jylan Mumtaza - Mahasiswi Informatika   Pemandangan antrean panjang di berbagai job fair belakangan ini menyajikan pemandangan yang cukup menyayat hati. Banyak lulusan perguruan tinggi, bahkan hingga ditemani orang tua mereka, rela berdesak-desakan demi selembar surat penerimaan kerja. Data resmi mencatat angka pengangguran terdidik tingkat sarjana telah menembus angka satu juta orang. Padahal di saat yang sama, angka pertumbuhan ekonomi nasional dilaporkan terus naik, tetapi kurva pemutusan hubungan kerja (PHK) justru kian melebar di berbagai sektor. Kondisi anomali yang kerap disebut sebagai jobless growth ini membuktikan bahwa janji penyediaan belasan juta lapangan kerja baru belum mampu menyentuh realitas. Berbagai program ketenagakerjaan yang digulirkan nyatanya belum mampu menyerap lulusan berpendidikan tinggi sesuai dengan kompetensinya. Persoalan ini tidak bisa terus-menerus disederh...

Efek Domino Melemahnya Rupiah

Gambar
Efek Domino Melemahnya Rupiah Oleh: Herliana Tri M, S.P Membahas kondisi lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar tak sesederhana realita masyarakat awam atau penduduk yang tinggal di pedesaan, bahwa mereka tak bertransaksi langsung dengan dolar. Lemahnya nilai tukar rupiah pun tak hanya persoalan angka di layar pasar valuta asing. Saat rupiah terus tertekan terhadap dolar AS, dampaknya menjalar ke berbagai sendi perekonomian bangsa, seperti efek domino yang sulit terputus. Memasuki Juni 2026, rupiah mencapai rekor depresiasi lebih dari Rp18.000 per dolar AS. Mengutip data Bank Indonesia pada 8 Juni 2026, nilai kurs tengah rupiah mencapai Rp18.039 per dolar AS. Pelemahan rupiah ini mencapai titik tertinggi setelah trennya terus memburuk sejak menembus Rp17.000 per dolar AS pada awal April lalu. Secara year to date (YTD), rupiah tercatat melemah sekitar 7,44 persen terhadap dolar AS. (Kompas.com, 8 Juni 2026). Pelemahan rupiah terhadap dolar memiliki konsekuensi logis yang mendalam ba...

Maraknya Judol, Maraknya Kejahatan: Buah Pahit Kapitalisme

Gambar
  Maraknya Judol, Maraknya Kejahatan: Buah Pahit Kapitalisme Oleh: Amila Shaliha Seorang pemuda berusia 23 tahun di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, tega membunuh ibu kandungnya sendiri setelah sang ibu menolak memberinya sejumlah uang akibat kecanduan judi online. Pelaku yang emosi kemudian menghabisi nyawa korban di rumah, lalu berusaha menghilangkan jejak dengan memutilasi dan membakar jasadnya, serta menguburkan bagian tubuh korban di lokasi berbeda. Ia akhirnya ditangkap polisi kurang dari 24 jam setelah penemuan jasad, dan kini terancam hukuman berat atas perbuatannya. (MetroTVNews, 9 April 2026). Ini bukan kasus pertama dan bukan satu-satunya. Seorang pria berinisial A (30) di Kecamatan Karanggede, Boyolali, nekat melakukan perampokan disertai kekerasan terhadap tetangganya sendiri akibat terlilit utang dari kecanduan judol. Pelaku menyerang seorang ibu hingga luka berat dan membunuh anaknya yang berusia 6 tahun. Setelah itu, ia membawa kabur sepeda motor korban untuk diga...