Postingan

Menampilkan postingan dengan label Dakwah

(Khutbah Jum'at) Tidak Pernah Aman di Bawah Sistem Zalim

Gambar
Khutbah Jumat Tidak Pernah Aman di Bawah Sistem Zalim Oleh : Hadi Irfandi, S. Pd. Khutbah Pertama الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. Amma ba’du. Jama'ah Jum'at rahimakumullah, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah سبحانه وتعالى dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa bukan hanya dalam ibadah pribadi, tetapi juga dalam cara kita membaca keadaan, menolak kezaliman, dan menegakkan kebenaran sesuai tuntunan Allah. Jama'ah yang dimuliakan Allah, Kita menyaksikan harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja makin sempit, ketimpangan sosial melebar, dan konflik di dunia Islam terus berulang. Yang paling merasakan beban adalah rakyat kecil. Pedagang kehilangan pembeli, buruh hidup dalam ketidakpastian, petani terhimpit biaya, dan generasi muda menatap masa depan...

(Bonus Part) Apa yang Hilang Saat Penulis Tak Punya Sikap?

Gambar
  (Bonus Part) Apa yang Hilang Saat Penulis Tak Punya Sikap?  Oleh : Hadi Irfandi, S. Pd. Banyak orang ingin menulis, tetapi sedikit yang benar-benar tahu mengapa ia menulis. Akibatnya, tulisan hanya menjadi kumpulan kalimat yang rapi, namun kosong arah. Topiknya bisa ramai, bahasanya bisa halus, bahkan terlihat cerdas. Namun setelah dibaca, tidak ada yang tertinggal selain kesan bahwa penulis sedang berbicara banyak tanpa mengatakan apa-apa. Di sinilah masalahnya: pembaca hari ini tidak hanya mencari informasi, mereka juga mencari kejelasan. Karena itu, penulis yang tidak punya sikap biasanya mudah dikenali. Ia selalu aman di semua sisi, tidak jelas berdiri di mana, dan terlalu takut jika pandangannya menimbulkan perdebatan. Saat membahas kemiskinan, ia ragu menyebut penyebabnya. Ketika menulis soal ketidakadilan, ia berhenti pada keluhan tanpa berani menunjukkan akar masalah. Bahkan saat membicarakan nilai-nilai agama, ia memilih kalimat yang nyaman didengar semua orang mesk...

Proyek IKN Kolaborasi Antara Kebijakan Populis Dan Kepentingan Oligarki

Gambar
Proyek IKN Kolaborasi Antara Kebijakan Populis Dan Kepentingan Oligarki Oleh : Siti Rima Sarinah   Dorongan untuk segera memanfaatkan gedung-gedung yang sudah dibangun di IKN mulai menguat. Salah satu opsinya dengan menempatkan Aparatur Sipil Negara (ASN) agar bangunan yang sudah berdiri tidak mubazir. Sebab, sudah menjadi rahasia umum pembangunan gedung-gedung dan infrastruktur di IKN telah menyedot anggaran degan jumlah yang sangat fantastis.  Direktur Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan menilai bahwa asumsi pemanfaatan awal IKN dapat menghemat anggaran tidak sepenuhnya akurat. Pasalnya, mobilisasi ASN ke IKN justru menambah beban fiskal pemerintah. Sehingga bukan hanya sekadar perpindahan dengan memanfaatkan infrastruktur yang sudah tersedia. Melainkan membutuhkan biaya tambahan untuk relokasi pegawai, penyediaan hunian hingga dukungan logistik lainnya, dan biaya tambahan tersebut bukanlah jumlah yang sedikit (kompas.com,02/04/2026). Dari awal proyek perpindahan...

Bagaimana Menulis Membentuk Identitas yang Kuat?

Gambar
Bagaimana Menulis Membentuk Identitas yang Kuat? Oleh : Hadi Irfandi, S. Pd. Biarkan aku memberimu satu fakta. Orang pada akhirnya akan lupa namamu—entah itu Ali Khamenei, atau siapapun itu—namun yang bertahan justru kesan yang ditinggalkan, apakah kehadiranmu memberi kejelasan atau hanya sekadar lewat tanpa makna. Karena itu, yang benar-benar menetap bukan citra luar diri, tapi kedalaman berpikir. Jika tujuanmu hanya membangun “branding” dari gaya berpakaian, tampilan visual, atau hal-hal eksternal lainnya, kamu bisa mencarinya di tempat lain—banyak yang mengajarkan itu hingga mulutnya berbusa. Tapi kalau yang kamu cari adalah identitas yang kuat, yang membuat orang mengenalmu dari cara berpikir, maka kamu bertemu orang yang tepat. Saya mengupas kenapa menulis menjadi salah satu senjata saya dan juga senjatamu untuk tetap diingat. Lalu, apa saja komposisinya? Pertama, perkenalkan ide kamu bahkan sebelum kamu dikenal. Menunggu punya audiens baru menjadi idealis termasuk cara yang tidak...

Dakwah : Haruskah Main Aman?

Gambar
Dakwah : Haruskah Main Aman? oleh Hadi Irfandi, S. Pd. Penguasa yang kian represif dijadikan barometer toleran dalam berdakwah dan ajang melepas penat dijadikan motivasi masyarakat untuk mendengar dakwah. Keduanya termasuk tantangan yang mustahil para da'i untuk menutup mata. Pertanyaannya sekarang: bagaimana menyampaikan kebenaran Islam dengan cara yang tetap diterima publik? dan mengapa melucu di atas mimbar hingga menyederhanakan ayat agar tidak "menyinggung" siapapun justru bukan solusi? Bukan rahasia lagi bahwa banyak masyarakat datang ke majelis ilmu setelah seharian bekerja keras —di sawah, ladang, pasar, laut— untuk dihibur. Para dai' mengakalinya dengan gaya ceramah yang ringan, lucu, dan menghibur. Sekilas, tidak ada yang salah dengan menghibur umat. Dakwah memang bisa jadi sarana menyegarkan jiwa. Namun, yang perlu diwaspadai adalah ketika masyarakat justru lebih ingat lelucon sang pendakwah ketimbang substansi ceramahnya. Islam yang seharusnya memberi solu...

Kembali ke Syariat Menyeluruh di Hari Kemenangan

Gambar
Kembali ke Syariat Menyeluruh di Hari Kemenangan oleh : Hadi Irfandi, S. Pd. Bagi banyak orang, lebaran dianggap sebagai kebahagiaan setelah sebulan berpuasa. Namun jika ditarik lebih dalam, Idul Fitri juga mengandung pesan tentang bagaimana umat Islam seharusnya menata kehidupan sesuai dengan aturan Allah secara menyeluruh. Sering kali Idul Fitri dipahami hanya sebagai tradisi tahunan: mudik, halal bihalal, dan silaturrahmi yang mempererat hubungan antar manusia. Semua itu tentu baik. Tetapi dalam sejarah Islam, tepatnya pada awal mula disyariatkan, hari raya adalah simbol perubahan cara hidup dari kebiasaan lama menuju kehidupan yang diatur oleh syariat. Rasulullah saw. pernah menegaskan hal ini dalam sebuah hadis: "Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya untuk kalian dengan hal yang lebih baik daripada keduanya, yakni Idul Adha dan Idul Fitri." (H.R. Abu Dawud dan al-Hakim) Imam al-Munawi (w. 1031 H) dalam syarh-nya menjelaskan bahwa dua hari yang dimaksud dalam hadis ...