Postingan

Menampilkan postingan dengan label opini

Masalah Listrik? Islam Punya Solusinya

Gambar
Masalah Listrik? Islam Punya Solusinya Oleh: Halimatus Sa'diah, S.Pd. Di Indonesia, setiap tahun kebutuhan akan listrik selalu meningkat. Hal ini dikarenakan pertambahan jumlah penduduk ataupun karena peningkatan konsumsi tenaga listrik itu sendiri. Penduduk yang mengonsumsi tenaga listrik tidak hanya penduduk di perkotaan atau di Pulau Jawa saja, tetapi hingga di pedesaan di berbagai wilayah yang ada di Indonesia. Pemadaman listrik bergilir yang dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Bali sudah terjadi selama dua minggu sejak dilaporkan pertama pada 8 Juni 2026. Pihak PLN mengklaim penyebab hal ini terjadi dikarenakan kendala teknis. Begitu pula pemadaman bergilir juga terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut berdampak pada aktivitas masyarakat di beberapa daerah, mulai dari kegiatan rumah tangga, pelayanan publik, hingga sektor usaha yang membutuhkan pasokan listrik stabil. Dilansir dari TRIBUNKALTIM.CO (27/06/2026...

Harga Nyawa Makin Murah, Karena Hukum Sanksi Makin Murahan

Gambar
Harga Nyawa Makin Murah, Karena Hukum Sanksi Makin Murahan Oleh: Siti Rima Sarinah Aksi kekerasan semakin hari semakin marak terjadi, baik dilakukan oleh para pelajar maupun orang dewasa. Aksi kekerasan ini kerap kali mengakibatkan melayangnya nyawa seseorang karena hal yang sepele. Seakan menghilangkan nyawa seseorang menjadi jalan satu-satunya untuk menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Entah sudah berapa banyak kasus kekerasan yang memenuhi daftar panjang kasus kekerasan di negeri ini, dan hingga kini kasus kekerasan terus terjadi serta tidak menjadikan pelakunya jera untuk melakukan hal yang serupa. Bogor merupakan salah satu kota yang marak aksi kekerasan. Baru-baru ini aparat kepolisian menangkap tiga pelaku yang diduga melakukan pembacokan yang mengakibatkan seorang pemuda harus meregang nyawa. Korban pembacokan yang merupakan warga Ciomas dinyatakan meninggal setelah mengalami luka bacok di bagian bahu kanan, punggung, dan pinggul. Polisi berhasil menangkap para pelaku, y...

Darurat Kejahatan Seksual, Umat Butuh Solusi Islam

Gambar
  Darurat Kejahatan Seksual, Umat Butuh Solusi Islam Oleh: Halimatus Sa'diah, S.Pd Berita mengenai kekerasan seksual pada anak semakin marak terjadi. Ironis sekali, kini kasus tindak asusila dan kekerasan seksual yang termasuk di dalamnya pelecehan seksual semakin gencar disuarakan. Di Indonesia, berbagai media massa, media sosial, dan lembaga pengaduan ramai oleh pelaporan tindakan keji tersebut. Cukup memprihatinkan, kini tidak hanya perempuan, tetapi laki-laki juga dapat merasakan dampak dari pelecehan seksual. Lebih mirisnya lagi, beberapa kasus kekerasan seksual dilakukan oleh tokoh agama atau guru ngaji. Kabar tersebut sangat memilukan dan menyesakkan dada. Fenomena tersebut merupakan suatu bentuk tindakan yang menodai ajaran agama. Dilansir dari KORANKALTIM.COM (07/06/2026), kasus dugaan kekerasan seksual yang menyeret oknum pimpinan pondok pesantren di Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), memicu reaksi keras dari legislatif. Anggota Komisi IV ...

Kredit Rumah 40 Tahun, Hunian Layak yang Semakin Sulit Digapai

Gambar
Oleh : Hadi Irfandi, S. Pd. Rumah yang dicicil sampai 40 tahun sedang dipersiapkan menjadi wajah baru kebijakan perumahan di Indonesia. Angsuran memang bisa terasa lebih ringan tetapi umur produktif masyarakat juga akan habis lebih lama untuk membayar utang rumah. Di tengah harga tanah yang terus naik dan penghasilan yang sering tidak bertambah banyak kebijakan ini bukan cuma soal membeli tempat tinggal melainkan tentang bagaimana hidup seseorang akan berjalan selama puluhan tahun ke depan. Sementara itu, banyak keluarga muda pasti akan melihat tenor panjang sebagai kesempatan yang menenangkan. Cicilan yang sebelumnya terasa berat perlahan tampak lebih masuk akal ketika turun sampai kisaran Rp800 ribuan per bulan. Namun yang sering luput dipahami adalah rumah itu tidak benar benar menjadi murah. Waktu pembayarannya saja yang diperpanjang sehingga rakyat diberi ruang bernapas lebih panjang untuk mencicil.  Karena itu masyarakat perlu mulai menghitung bukan hanya sanggup membayar bul...

Kampus dalam Kendali Kapital

Gambar
Kampus dalam Kendali Kapital Oleh : Hadi Irfandi, S. Pd. Rencana pemerintah untuk menutup program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri menandai pergeseran besar arah pendidikan tinggi di Indonesia. Kampus tidak lagi diposisikan sebagai ruang pembentuk cara berpikir dan peradaban, melainkan semakin didorong menjadi penyedia tenaga kerja yang siap pakai. Kebijakan ini berangkat dari kekhawatiran atas tingginya jumlah lulusan sarjana yang tidak terserap dunia kerja. Setiap tahun, sekitar 1,9 juta lulusan perguruan tinggi dihasilkan, namun banyak di antaranya kesulitan mendapatkan pekerjaan karena kompetensi yang tidak sesuai dengan kebutuhan industri. Karena itu, pemerintah berupaya mengurangi kesenjangan tersebut dengan menutup program studi yang dinilai tidak memiliki keterkaitan langsung dengan sektor-sektor prioritas seperti energi, pangan, kesehatan, hingga digitalisasi dan manufaktur maju. Namun demikian, pendekatan ini juga menyederhanakan persoalan. Ketidaks...

Guru Tak Lagi Dihormati, Islam Jawaban Hakiki

Gambar
Guru Tak Lagi Dihormati, Islam Jawaban Hakiki Oleh : Hadi Irfandi, S. Pd. Dunia pendidikan kembali dihadapkan pada peristiwa yang memantik keprihatinan publik. Sebuah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan perilaku sejumlah pelajar yang dinilai tidak menghormati gurunya saat berada di dalam kelas. Dalam tayangan tersebut, beberapa siswa tampak mengejek dan menunjukkan gestur jari tengah kepada sosok pendidik yang sedang berada di hadapan mereka. Aksi itu segera memicu reaksi keras dari masyarakat karena dianggap mencederai adab di lingkungan sekolah. (detik.com, diakses 19 April 2026) Berdasarkan informasi yang beredar, kejadian tersebut disebut berlangsung di SMAN 1 Purwakarta, Jawa Barat. Banyak pihak menilai insiden ini bukan sekadar kenakalan remaja biasa, melainkan tanda adanya persoalan serius dalam pembentukan karakter peserta didik. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat menanamkan ilmu sekaligus akhlak justru dipertanyakan efektivitasnya ketika penghormatan kep...

Maraknya Judol, Maraknya Kejahatan: Buah Pahit Kapitalisme

Gambar
  Maraknya Judol, Maraknya Kejahatan: Buah Pahit Kapitalisme Oleh: Amila Shaliha Seorang pemuda berusia 23 tahun di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, tega membunuh ibu kandungnya sendiri setelah sang ibu menolak memberinya sejumlah uang akibat kecanduan judi online. Pelaku yang emosi kemudian menghabisi nyawa korban di rumah, lalu berusaha menghilangkan jejak dengan memutilasi dan membakar jasadnya, serta menguburkan bagian tubuh korban di lokasi berbeda. Ia akhirnya ditangkap polisi kurang dari 24 jam setelah penemuan jasad, dan kini terancam hukuman berat atas perbuatannya. (MetroTVNews, 9 April 2026). Ini bukan kasus pertama dan bukan satu-satunya. Seorang pria berinisial A (30) di Kecamatan Karanggede, Boyolali, nekat melakukan perampokan disertai kekerasan terhadap tetangganya sendiri akibat terlilit utang dari kecanduan judol. Pelaku menyerang seorang ibu hingga luka berat dan membunuh anaknya yang berusia 6 tahun. Setelah itu, ia membawa kabur sepeda motor korban untuk diga...

Kala Hak Rakyat Diperjualbelikan Oleh Negara

Gambar
  Kala Hak Rakyat Diperjualbelikan Oleh Negara Oleh: Siti Rima Sarinah Negara adalah pihak yang diberi amanah untuk mengurus dan melayani seluruh kebutuhan rakyat. Hajat hidup rakyat seperti pendidikan, kesehatan, keamanan, air, listrik, dan kebutuhan lainnya semestinya dapat diperoleh dengan mudah tanpa harus mengeluarkan biaya sepeser pun. Pasalnya, negara memiliki kewenangan mengelola kekayaan alam yang sejatinya milik rakyat, lalu hasilnya dikembalikan kepada rakyat untuk menjamin serta memfasilitasi seluruh kebutuhan hidup mereka. Namun, paradigma negara dalam sistem kapitalisme berbeda dalam memosisikan peran negara. Sistem ini menihilkan fungsi negara sebagai pelayan urusan rakyat. Dalam kapitalisme, rakyat tidak dipandang sebagai pihak yang harus dilayani, melainkan sebagai “mesin pencetak uang” melalui berbagai pungutan yang dibebankan kepada mereka, termasuk pungutan untuk kebutuhan dasar seperti listrik. Fakta tersebut tampak dalam kasus suplai listrik ilegal bagi para p...

Defisit Anggaran Negara, Haruskah Kepentingan Rakyat Dikorbankan?

Gambar
  Defisit Anggaran Negara, Haruskah Kepentingan Rakyat Dikorbankan? Oleh : Siti Rima Sarinah Negara mengalami defisit anggaran terus digaungkan ke tengah masyarakat hingga hari ini. Langkah efisiensi pun dilakukan untuk menekan pengeluaran negara, salah satunya dengan pemangkasan anggaran untuk daerah. Kebijakan ini membuat daerah harus memutar otak untuk mendapatkan dana tambahan agar operasional daerah tetap bisa berjalan. Menaikkan berbagai macam pajak pun dijadikan solusi oleh daerah sebagai dana tambahan. Jeritan masyarakat pun semakin kencang terdengar akibat kenaikan pajak yang membuat kehidupan mereka semakin terhimpit.  Tidak ada yang salah dari kebijakan pemerintah melakukan efisiensi anggaran mengingat pemasukan negara semakin menipis. Maka sudah seharusnya negara mengelola keuangan dengan sebaik-baik mungkin dan memprioritaskan hanya untuk kepentingan rakyat dan biaya operasional negara. Namun sayangnya disisi lain justru negara menggelontorkan dana yang cukup besa...

Bagaimana Memilih Pemikir yang Layak Diikuti?

Gambar
  Bagaimana Memilih Pemikir yang Layak Diikuti? Hari ini kita bisa mendengar banyak pendapat hanya dari layar ponsel. Ada yang bicara soal agama, politik, ekonomi, moral, sampai masa depan bangsa. Semua terdengar yakin, semua tampak punya jawaban. Karena terlalu sering melihat itu, kita kadang mengira siapa pun yang pandai bicara pantas diikuti. Padahal masalah utamanya bukan kurangnya orang pintar. Masalahnya adalah banyak pemikiran berjalan tanpa kompas moral yang benar. Seseorang bisa cerdas, berani, dan fasih menjelaskan banyak hal, tetapi jika ukuran benar-salahnya rusak, pikirannya bisa menyesatkan orang lain. Kita sering terpukau pada cara bicara, tetapi lupa memeriksa arah yang ditawarkan. Di sinilah pentingnya memilih pemikir yang layak diikuti. Bukan sekadar mencari siapa yang paling terkenal atau paling ramai dibahas, tetapi siapa yang nilai hidupnya benar, cara berpikirnya jernih, dan pendapatnya membawa kebaikan. Sebab bukan hanya siapa yang bicara yang penting, tetapi...

(Bonus Part) Apa yang Hilang Saat Penulis Tak Punya Sikap?

Gambar
  (Bonus Part) Apa yang Hilang Saat Penulis Tak Punya Sikap?  Oleh : Hadi Irfandi, S. Pd. Banyak orang ingin menulis, tetapi sedikit yang benar-benar tahu mengapa ia menulis. Akibatnya, tulisan hanya menjadi kumpulan kalimat yang rapi, namun kosong arah. Topiknya bisa ramai, bahasanya bisa halus, bahkan terlihat cerdas. Namun setelah dibaca, tidak ada yang tertinggal selain kesan bahwa penulis sedang berbicara banyak tanpa mengatakan apa-apa. Di sinilah masalahnya: pembaca hari ini tidak hanya mencari informasi, mereka juga mencari kejelasan. Karena itu, penulis yang tidak punya sikap biasanya mudah dikenali. Ia selalu aman di semua sisi, tidak jelas berdiri di mana, dan terlalu takut jika pandangannya menimbulkan perdebatan. Saat membahas kemiskinan, ia ragu menyebut penyebabnya. Ketika menulis soal ketidakadilan, ia berhenti pada keluhan tanpa berani menunjukkan akar masalah. Bahkan saat membicarakan nilai-nilai agama, ia memilih kalimat yang nyaman didengar semua orang mesk...

Proyek IKN Kolaborasi Antara Kebijakan Populis Dan Kepentingan Oligarki

Gambar
Proyek IKN Kolaborasi Antara Kebijakan Populis Dan Kepentingan Oligarki Oleh : Siti Rima Sarinah   Dorongan untuk segera memanfaatkan gedung-gedung yang sudah dibangun di IKN mulai menguat. Salah satu opsinya dengan menempatkan Aparatur Sipil Negara (ASN) agar bangunan yang sudah berdiri tidak mubazir. Sebab, sudah menjadi rahasia umum pembangunan gedung-gedung dan infrastruktur di IKN telah menyedot anggaran degan jumlah yang sangat fantastis.  Direktur Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan menilai bahwa asumsi pemanfaatan awal IKN dapat menghemat anggaran tidak sepenuhnya akurat. Pasalnya, mobilisasi ASN ke IKN justru menambah beban fiskal pemerintah. Sehingga bukan hanya sekadar perpindahan dengan memanfaatkan infrastruktur yang sudah tersedia. Melainkan membutuhkan biaya tambahan untuk relokasi pegawai, penyediaan hunian hingga dukungan logistik lainnya, dan biaya tambahan tersebut bukanlah jumlah yang sedikit (kompas.com,02/04/2026). Dari awal proyek perpindahan...