Guru Tak Lagi Dihormati, Islam Jawaban Hakiki


Guru Tak Lagi Dihormati, Islam Jawaban Hakiki

Oleh : Hadi Irfandi, S. Pd.

Dunia pendidikan kembali dihadapkan pada peristiwa yang memantik keprihatinan publik. Sebuah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan perilaku sejumlah pelajar yang dinilai tidak menghormati gurunya saat berada di dalam kelas. Dalam tayangan tersebut, beberapa siswa tampak mengejek dan menunjukkan gestur jari tengah kepada sosok pendidik yang sedang berada di hadapan mereka. Aksi itu segera memicu reaksi keras dari masyarakat karena dianggap mencederai adab di lingkungan sekolah. (detik.com, diakses 19 April 2026)

Berdasarkan informasi yang beredar, kejadian tersebut disebut berlangsung di SMAN 1 Purwakarta, Jawa Barat. Banyak pihak menilai insiden ini bukan sekadar kenakalan remaja biasa, melainkan tanda adanya persoalan serius dalam pembentukan karakter peserta didik. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat menanamkan ilmu sekaligus akhlak justru dipertanyakan efektivitasnya ketika penghormatan kepada guru mulai luntur. Kasus ini pun menjadi bahan evaluasi bersama bagi keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Peristiwa ini menyorot persoalan yang lebih dalam pada sistem pendidikan saat ini. Di tingkat SMA, Pendidikan Agama Islam diajarkan sebagai mata pelajaran, namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa transfer materi belum otomatis melahirkan akhlak dan penghormatan kepada guru. Nilai agama kerap berhenti di ruang ujian, sementara pembentukan pola pikir dan kepribadian belum menjadi orientasi utama pendidikan. Akibatnya, sekolah mampu menghasilkan nilai rapor, tetapi belum tentu melahirkan generasi beradab. Jika pelajaran agama hadir setiap pekan namun penghormatan kepada guru terus memudar, di mana letak kegagalan yang sesungguhnya?

Saat Tuhan Dikeluarkan dari Sekolah

Tindakan murid yang mengejek guru bukan sekadar kenakalan biasa atau pelanggaran aturan sekolah. Peristiwa itu menunjukkan hilangnya adab dan pudarnya penghormatan terhadap ilmu. Ketika seorang pelajar berani merendahkan guru di depan umum, yang patut dipertanyakan bukan hanya perilaku anak itu, tetapi sistem pendidikan yang membentuk cara pandangnya sejak awal.

Akar masalah ini bermula saat agama tidak lagi dijadikan dasar dalam pendidikan. Nilai-nilai Islam dipersempit menjadi pelajaran di jam tertentu, sementara cara berpikir, tujuan belajar, dan arah hidup dibangun dengan ukuran dunia semata. Akibatnya, sekolah sibuk mengejar nilai, ranking, dan gelar, tetapi gagal menanamkan kekokohan ideologis. Murid didorong sukses mencari pekerjaan, namun tidak dibimbing menjadi manusia yang takut kepada Allah dan beradab bagi sesama.

Setelah itu, kedudukan guru pun ikut berubah. Dahulu guru dihormati sebagai pembimbing dan teladan. Kini, di banyak tempat guru dipandang hanya sebagai penyedia jasa pendidikan yang harus memuaskan siswa dan orang tua. Istilah pelayanan terdengar mulia, tetapi sering berubah menjadi tuntutan agar guru selalu menuruti keinginan pasar. Dari sinilah wibawa guru pelan-pelan dihancurkan, lalu murid belajar bahwa menolak nasihat, membantah, bahkan mempermalukan guru adalah hal yang biasa.

Pandangan ini pernah dibahas oleh Abdul Qadim Zallum dalam Malapetaka Runtuhnya Khilafah. Beliau menjelaskan bahwa penjajahan tidak selalu datang dengan senjata, tetapi juga melalui perubahan cara berpikir umat dengan menjauhkan agama dari aturan hidup, termasuk pendidikan. Suka atau tidak, kita hari ini kena getahnya.

Jalan Keluar yang Menyeluruh

Akar persoalan yang dibahas sebelumnya tidak cukup diselesaikan dengan hukuman sesaat atau pergantian aturan teknis di sekolah. Problem itu berawal dari cara pandang yang salah tentang ilmu, adab, dan tujuan pendidikan. Karena itu, pembenahan harus dimulai dari landasan berpikir yang benar agar seluruh proses pendidikan kembali memiliki arah yang jelas.

Pandangan hidup yang bersumber dari akidah menempatkan ilmu bukan sekadar alat mencari pekerjaan, melainkan sarana mendekatkan diri kepada Allah dan membangun peradaban yang mulia. Dari sini lahir cara berpikir yang benar dalam memandang kehidupan, sekaligus sikap yang tunduk pada aturan Allah dalam setiap perbuatan. Ketika dasar ini tertanam, peserta didik tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki pola pikir yang lurus dan pola sikap yang mulia.

Selain itu, keluarga memegang peran penting sebagai tempat pendidikan pertama. Anak membutuhkan rumah yang menanamkan ketakwaan, kedisiplinan, dan teladan yang baik sejak dini. Nilai yang dibangun di rumah akan memperkuat cara berpikir anak serta membentuk kebiasaan baik saat berhadapan dengan berbagai pengaruh buruk di luar.

Di tengah masyarakat, budaya saling menasihati juga harus dihidupkan. Kepedulian sosial membuat penyimpangan tidak dibiarkan tumbuh menjadi kebiasaan. Saat amar makruf nahi mungkar berjalan, masyarakat tidak bersikap acuh terhadap kerusakan, tetapi hadir sebagai penjaga nilai bersama yang turut menjaga arah pikir dan perilaku generasi.

Pada saat yang sama, negara wajib mengambil peran utama melalui kebijakan yang menyeluruh. Pendidikan harus disusun untuk membentuk kepribadian yang lurus, bukan hanya mengejar angka kelulusan dan kebutuhan pasar kerja. Kurikulum, lingkungan belajar, serta arah pembinaan generasi harus dibangun di atas nilai yang menuntun akal sekaligus perilaku. Dengan langkah seperti inilah harapan lahirnya generasi berilmu, beradab, dan berkepribadian kuat dapat diwujudkan.

Khatimah

Krisis moral di dunia pendidikan menunjukkan bahwa persoalan generasi tidak akan selesai selama akar sistemnya dibiarkan rusak. Umat membutuhkan tatanan pendidikan yang menjadikan akidah sebagai dasar, didukung keluarga yang bertakwa, masyarakat yang aktif menjaga kebaikan, dan negara yang sungguh-sungguh mengurus rakyat. 

Inilah gambaran sistem Islam yang diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan bernegara. Dengan sistem semacam ini, generasi tidak hanya terhindar dari kerusakan, tetapi tumbuh sebagai pribadi beriman, berilmu, berakhlak, dan siap memimpin peradaban.

Komentar

Kamu Mungkin Suka

Kampus dalam Kendali Kapital

Kenapa Perubahan Berangkat dari Berubahnya Pola Pikir?

Dakwah : Haruskah Main Aman?