Postingan

Menampilkan postingan dengan label sekularisme

Menguji Arah Peradaban di Era Digital

Gambar
Menguji Arah Peradaban di Era Digital Oleh: Herliana Tri, M.S.P Bijak dalam bermedia sosial. Kata sederhana ini tepat untuk menyelamatkan diri agar tidak gegabah dalam merangkai kata di dunia maya. Mengingat netizen Indonesia di media sosial terkenal aktif, memiliki solidaritas tinggi, namun juga disorot karena rendahnya kesopanan digital. Karakteristik warganet +62 sering kali dilekatkan dengan perilaku "suka ngegas", mudah menyerbu akun publik figur atau instansi tertentu (secara kolektif), tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang kuat sekaligus cepat. Gambaran ini nyata dalam fakta baru yang ramai diunggah di media sosial. Begitu pula dalam tvonenews.com (7/8/20256) mengunggah satu nama, yakni Yurizal. Sosok pria pasien BPJS Kesehatan yang dikabarkan meninggal dunia. Kabar Yurizal sebelum meninggal dunia sudah mencuri perhatian warganet di media sosial. Sebab, curhatannya yang belum mendapatkan penanganan tenaga medis justru mendapatkan cibiran beberapa oknum nakes. Sam...

Dibalik Narasi HAM Global, Menyingkap Agenda Politik Propaganda LGBT

Gambar
  Dibalik Narasi HAM Global, Menyingkap Agenda Politik Propaganda LGBT Oleh: Eriza Irawan Jagat pendidikan dan politik nasional belakangan ini kembali diguncang oleh narasi pembelaan terhadap penyimpangan seksual. Di satu sisi, publik disuguhkan postingan akun media sosial BEM Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang mempromosikan propaganda queer dengan merujuk pada booklet usang American Psychological Association (APA) tahun 2008. Mereka mengklaim bahwa homoseksualitas "bukanlah gangguan mental, melainkan bagian normal dan natural dari keragaman." Di sisi lain, dinamika regulasi di tingkat negara menunjukkan kondisi yang sangat kompleks. Kebijakan Pertahanan Negara melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 111 Tahun 2025 secara eksplisit mencantumkan penyebaran budaya LGBTQ sebagai ancaman nonmiliter terhadap pertahanan negara yang dinilai setara bahayanya dengan ancaman terhadap kedaulatan lainnya. Inisiasi hukum pidana oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga tengah ...

Miras Dilegalkan, Kekacauan Tak Terelakkan

Gambar
Miras Dilegalkan, Kekacauan Tak Terelakkan Oleh: Amila Shaliha Warga Kota Bogor baru-baru ini disuguhi tontonan yang meresahkan. Viral di media sosial yang memperlihatkan keributan di salah satu Tempat Hiburan Malam (THM) yang berlokasi di Jalan Merdeka, Kecamatan Bogor Tengah. Berdasarkan kesaksian beberapa pihak, keributan antar pengunjung ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Diduga pemicunya adalah hilang akal yang disebabkan mabuk, imbas dari bebasnya penjualan minuman beralkohol di THM tersebut. Kerap menerima laporan dari warga sekitar yang resah, anggota Komisi I DPRD Kota Bogor akhirnya turun tangan dan mendesak Satpol PP untuk menindaklanjuti kasus ini. Kecurigaan publik terbukti pasca Satpol PP melakukan sidak. Ditemukan sekitar 35 botol minuman beralkohol golongan B dan C. Temuan ini menjadi bukti kuat adanya pelanggaran karena THM tersebut beroperasi tidak sesuai dengan izin usaha yang dimilikinya. (bogornetwork.com) Menjadi pertanyaan, jika memang terbukti THM tersebut ...

Darurat Kejahatan Seksual, Umat Butuh Solusi Islam

Gambar
  Darurat Kejahatan Seksual, Umat Butuh Solusi Islam Oleh: Halimatus Sa'diah, S.Pd Berita mengenai kekerasan seksual pada anak semakin marak terjadi. Ironis sekali, kini kasus tindak asusila dan kekerasan seksual yang termasuk di dalamnya pelecehan seksual semakin gencar disuarakan. Di Indonesia, berbagai media massa, media sosial, dan lembaga pengaduan ramai oleh pelaporan tindakan keji tersebut. Cukup memprihatinkan, kini tidak hanya perempuan, tetapi laki-laki juga dapat merasakan dampak dari pelecehan seksual. Lebih mirisnya lagi, beberapa kasus kekerasan seksual dilakukan oleh tokoh agama atau guru ngaji. Kabar tersebut sangat memilukan dan menyesakkan dada. Fenomena tersebut merupakan suatu bentuk tindakan yang menodai ajaran agama. Dilansir dari KORANKALTIM.COM (07/06/2026), kasus dugaan kekerasan seksual yang menyeret oknum pimpinan pondok pesantren di Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), memicu reaksi keras dari legislatif. Anggota Komisi IV ...

Ketika Kapitalisme Menyempitkan Makna Interaksi

Gambar
  Ketika Kapitalisme Menyempitkan Makna Interaksi Oleh : Your Fikrah Mentor Perhatikan cara kita berinteraksi hari ini. Dimanapun tempat manusia menjalin relasi, hubungan terasa seperti transaksi diam-diam. Kita mendekat karena ada manfaat, bertahan karena ada peluang. Obrolan yang harusnya ringan malah dipenuhi hitung-hitungan di hampir semua lini pembahasan. "apa yang bisa aku dapat dari orang ini?" Kita mungkin tidak selalu sadar, tapi kita ikut bermain dalam pola yang sama. Kepedulian jadi bersyarat, bantuan terasa seperti investasi, dan perlahan hubungan kehilangan rasa hangatnya. Perlu diketahui, pola ini lahir sejak manusia memisahkan agama dari cara mengatur hidup. Dari situlah muncul sekularisme, lalu berkembang menjadi kapitalisme. Awalnya hanya cara melihat ekonomi, tapi hari ini ia ikut mengatur cara kita melihat manusia. Semua dinilai dari untung rugi. Orang dihargai kalau memberi manfaat, dan diabaikan kalau tidak punya nilai. Cara berpikir ini akhirnya membentu...

Kampus dalam Kendali Kapital

Gambar
Kampus dalam Kendali Kapital Oleh : Hadi Irfandi, S. Pd. Rencana pemerintah untuk menutup program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri menandai pergeseran besar arah pendidikan tinggi di Indonesia. Kampus tidak lagi diposisikan sebagai ruang pembentuk cara berpikir dan peradaban, melainkan semakin didorong menjadi penyedia tenaga kerja yang siap pakai. Kebijakan ini berangkat dari kekhawatiran atas tingginya jumlah lulusan sarjana yang tidak terserap dunia kerja. Setiap tahun, sekitar 1,9 juta lulusan perguruan tinggi dihasilkan, namun banyak di antaranya kesulitan mendapatkan pekerjaan karena kompetensi yang tidak sesuai dengan kebutuhan industri. Karena itu, pemerintah berupaya mengurangi kesenjangan tersebut dengan menutup program studi yang dinilai tidak memiliki keterkaitan langsung dengan sektor-sektor prioritas seperti energi, pangan, kesehatan, hingga digitalisasi dan manufaktur maju. Namun demikian, pendekatan ini juga menyederhanakan persoalan. Ketidaks...

Guru Tak Lagi Dihormati, Islam Jawaban Hakiki

Gambar
Guru Tak Lagi Dihormati, Islam Jawaban Hakiki Oleh : Hadi Irfandi, S. Pd. Dunia pendidikan kembali dihadapkan pada peristiwa yang memantik keprihatinan publik. Sebuah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan perilaku sejumlah pelajar yang dinilai tidak menghormati gurunya saat berada di dalam kelas. Dalam tayangan tersebut, beberapa siswa tampak mengejek dan menunjukkan gestur jari tengah kepada sosok pendidik yang sedang berada di hadapan mereka. Aksi itu segera memicu reaksi keras dari masyarakat karena dianggap mencederai adab di lingkungan sekolah. (detik.com, diakses 19 April 2026) Berdasarkan informasi yang beredar, kejadian tersebut disebut berlangsung di SMAN 1 Purwakarta, Jawa Barat. Banyak pihak menilai insiden ini bukan sekadar kenakalan remaja biasa, melainkan tanda adanya persoalan serius dalam pembentukan karakter peserta didik. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat menanamkan ilmu sekaligus akhlak justru dipertanyakan efektivitasnya ketika penghormatan kep...

Buku yang Menjual Janji, Bukan Perbaikan Fikrah

Gambar
Buku yang Menjual Janji, Bukan Perbaikan Fikrah Oleh : Your Fikrah Mentor Buku-buku pengembangan diri menjadi bacaan favorit banyak orang karena menawarkan sesuatu yang sedang dicari masyarakat modern, yaitu jalan keluar cepat dari masalah hidup. Di tengah tekanan ekonomi, persaingan kerja, hubungan sosial yang rumit, serta rasa cemas akan masa depan, banyak orang berharap menemukan jawaban praktis melalui buku. Judul-judulnya dibuat sangat menarik, seolah mampu membuka pintu sukses, ketenangan, dan perubahan besar dalam waktu singkat. Dari sinilah daya tarik itu bekerja. Pembaca datang dengan keresahan nyata, lalu disambut oleh janji yang terdengar menenangkan. Namun, banyak buku semacam itu justru menjebak pembacanya pada gambaran hidup yang terlalu sederhana. Dunia digambarkan seakan netral dan selalu memberi hasil baik bagi siapa saja yang berpikir positif. Pembaca diarahkan untuk percaya bahwa semangat, keyakinan diri, dan keberanian mengambil langkah sudah cukup untuk menembus se...

Maraknya Judol, Maraknya Kejahatan: Buah Pahit Kapitalisme

Gambar
  Maraknya Judol, Maraknya Kejahatan: Buah Pahit Kapitalisme Oleh: Amila Shaliha Seorang pemuda berusia 23 tahun di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, tega membunuh ibu kandungnya sendiri setelah sang ibu menolak memberinya sejumlah uang akibat kecanduan judi online. Pelaku yang emosi kemudian menghabisi nyawa korban di rumah, lalu berusaha menghilangkan jejak dengan memutilasi dan membakar jasadnya, serta menguburkan bagian tubuh korban di lokasi berbeda. Ia akhirnya ditangkap polisi kurang dari 24 jam setelah penemuan jasad, dan kini terancam hukuman berat atas perbuatannya. (MetroTVNews, 9 April 2026). Ini bukan kasus pertama dan bukan satu-satunya. Seorang pria berinisial A (30) di Kecamatan Karanggede, Boyolali, nekat melakukan perampokan disertai kekerasan terhadap tetangganya sendiri akibat terlilit utang dari kecanduan judol. Pelaku menyerang seorang ibu hingga luka berat dan membunuh anaknya yang berusia 6 tahun. Setelah itu, ia membawa kabur sepeda motor korban untuk diga...

Saat Cara Berpikir Tak Lagi Dituntun Wahyu

Gambar
Saat Cara Berpikir Tak Lagi Dituntun Wahyu Oleh : Your Fikrah Mentor Sudah menjadi rahasia umum bahwa di tempat kerja, orang saling menjatuhkan demi posisi. Dalam pergaulan, hubungan antar laki-laki dan perempuan makin kabur batasnya. Pelecehan meningkat, bahkan fatalnya ikut terjadi serta dipromosikan pula hubungan zina dengan saudara sedarah, akibatnya banyak anak muda tumbuh tanpa teladan. Semua ini bukan muncul tiba-tiba. Ini terjadi ketika masyarakat kehilangan panduan tentang cara menilai halal dan haram. Di level global, keadaannya lebih membingungkan. Saat negeri-negeri Muslim ditekan dengan perang, utang, atau tekanan politik, umat justru tercerai-berai dalam sikap. Ada yang diam, ada yang bingung, ada yang membela penindas atas nama kepentingan nasional. Rakyat yang ramai jumlahnya, tak berkutik di hadapan penguasa bagai kerbau dicucuk hidungnya.  Akar masalahnya adalah hilangnya kepemimpinan berpikir. Umat tidak kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan sosok dan sistem...

Ingin Lebih Sulit Dikontrol?

Gambar
Ingin Lebih Sulit Dikontrol? Dari Mana Asalnya?  Ketika seseorang mencoba mengontrol kita, biasanya tujuannya adalah mendapatkan sesuatu dari kita atau menempatkan kita di posisi yang menguntungkan dirinya. Kontrol yang dibahas kali ini adalah yang bentuknya tekanan kecil yang terus diulang sampai kita lelah menolak. Fenomena ini terasa semakin biasa hari ini. Salah satu sebabnya adalah cara pandang hidup yang menjauhkan nilai agama dari kehidupan, atau yang dikenal sebagai akidah sekularisme. Saat urusan sosial, moral, dan relasi antarmanusia tidak lagi membutuhkan pandangan agama, ukuran benar dan salah sering diganti dengan untung dan rugi. Akibatnya, sebagian orang merasa bebas menggunakan cara apa pun demi kepentingannya, termasuk mengatur, menekan, atau memainkan orang lain. Dinamika interaksi pun bergeser menjadi lebih keras, lebih transaksional, dan minim empati. Kontrol juga bisa datang dari siapa saja yang berada “di atas” kita: usia lebih tua, jabatan lebih tinggi, ekono...