Menguji Arah Peradaban di Era Digital


Menguji Arah Peradaban di Era Digital

Oleh: Herliana Tri, M.S.P

Bijak dalam bermedia sosial. Kata sederhana ini tepat untuk menyelamatkan diri agar tidak gegabah dalam merangkai kata di dunia maya. Mengingat netizen Indonesia di media sosial terkenal aktif, memiliki solidaritas tinggi, namun juga disorot karena rendahnya kesopanan digital. Karakteristik warganet +62 sering kali dilekatkan dengan perilaku "suka ngegas", mudah menyerbu akun publik figur atau instansi tertentu (secara kolektif), tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang kuat sekaligus cepat.

Gambaran ini nyata dalam fakta baru yang ramai diunggah di media sosial. Begitu pula dalam tvonenews.com (7/8/20256) mengunggah satu nama, yakni Yurizal. Sosok pria pasien BPJS Kesehatan yang dikabarkan meninggal dunia. Kabar Yurizal sebelum meninggal dunia sudah mencuri perhatian warganet di media sosial. Sebab, curhatannya yang belum mendapatkan penanganan tenaga medis justru mendapatkan cibiran beberapa oknum nakes. Sampai akhirnya pasien BPJS ini mengembuskan napas terakhirnya.

Meninggalnya pasien BPJS diiringi respons nirempati yang ditunjukkan oleh tenaga medis, langsung mendapatkan perhatian besar di dunia maya. Gelombang kemarahan dan kekesalan netizen tak terelakkan. Bahkan kabar soal Yurizal, pasien BPJS ini, mendapatkan perhatian dari Menteri Kesehatan dan pihak BPJS Kesehatan.

Krisis Adab di Balik Dinding Pendidikan

Fenomena ini hanyalah satu dari sekian banyak fakta di masyarakat. Kecerdasan dan tingginya gelar pendidikan tak sebanding dengan adab serta kesopanannya dalam bertingkah laku dan bertutur kata.

Islam sebagai agama yang berasal dari Sang Pencipta telah meletakkan prinsip ini berabad-abad lalu sebelum akhirnya Islam berjaya di seluruh penjuru dunia. Prinsip adab dulu baru ilmu adalah fondasi penting dalam Islam yang sering dibahas dalam berbagai literatur keislaman. Dalam pandangan Islam, adab menempati posisi mulia agar ilmu yang diperoleh mendatangkan keberkahan dan tidak melahirkan kesombongan.

Para ulama salaf saleh sangat memperhatikan masalah adab. Mereka pun mengarahkan muridnya agar mempelajari adab sebelum menggeluti suatu bidang ilmu dan menemukan berbagai macam khilaf (perbedaan pendapat) ulama. Imam Darul Hijrah, Imam Malik bin Anas ra., menyampaikan kepada seorang pemuda Quraisy,

"Wahai putra saudaraku, pelajarilah adab sebelum kamu belajar ilmu."


Itulah rahasia mengapa para ulama yang mengemban ilmu menjadi orang yang alim lagi tawadhu, berbuah dalam amal, dan jujur mengemban tanggung jawab.

Demikianlah adab sebagai perhiasan dalam lisan dan perilaku. Imam al-Munawi secara tegas menjelaskan hadis terkait sifat orang munafik:

"Maksudnya yaitu orang yang banyak ilmu di lidahnya, tetapi bodoh hati dan amalnya. Ia menjadikan ilmu sebagai profesi yang dengan itu ia mencari makan. Ia berpenampilan penuh wibawa untuk menarik perhatian orang. Ia mengajak orang lain kepada Allah, tetapi ia sendiri lari dari Allah. Ia mencela aib orang lain lalu melakukan perbuatan yang lebih buruk darinya. Ia menampakkan ibadah dan kekhusyukan di hadapan manusia, tetapi melakukan dosa-dosa besar di hadapan Tuhannya saat sendirian bersama-Nya. Ia adalah seekor serigala yang memakai baju."

Sudah saatnya negeri dengan mayoritas muslim ini menjadikan Islam sebagai acuan dan pijakan dalam berperilaku dan bertingkah laku. Melepaskan ide sekulerisme yang hanya menjadikan agama di pojok masjid, namun diabaikan dalam kehidupan nyata, termasuk pada kurikulum pendidikan. Padahal generasi-generasi cemerlang yang menyumbangkan banyak torehan tinta emas sejarah terukir indah dalam peradabannya lahir dari sistem yang menjadikan Islam sebagai pedoman. Generasi yang bertakwa, beradab, serta penuh dedikasi dalam membangun peradaban.


 

Komentar

Kamu Mungkin Suka

Kampus dalam Kendali Kapital

Kenapa Perubahan Berangkat dari Berubahnya Pola Pikir?

Dakwah : Haruskah Main Aman?