Saat Cara Berpikir Tak Lagi Dituntun Wahyu


Saat Cara Berpikir Tak Lagi Dituntun Wahyu


Oleh : Your Fikrah Mentor


Sudah menjadi rahasia umum bahwa di tempat kerja, orang saling menjatuhkan demi posisi. Dalam pergaulan, hubungan antar laki-laki dan perempuan makin kabur batasnya. Pelecehan meningkat, bahkan fatalnya ikut terjadi serta dipromosikan pula hubungan zina dengan saudara sedarah, akibatnya banyak anak muda tumbuh tanpa teladan. Semua ini bukan muncul tiba-tiba. Ini terjadi ketika masyarakat kehilangan panduan tentang cara menilai halal dan haram.

Di level global, keadaannya lebih membingungkan. Saat negeri-negeri Muslim ditekan dengan perang, utang, atau tekanan politik, umat justru tercerai-berai dalam sikap. Ada yang diam, ada yang bingung, ada yang membela penindas atas nama kepentingan nasional. Rakyat yang ramai jumlahnya, tak berkutik di hadapan penguasa bagai kerbau dicucuk hidungnya. 

Akar masalahnya adalah hilangnya kepemimpinan berpikir. Umat tidak kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan sosok dan sistem yang mampu memandu cara berpikir masyarakat. Tanpa kepemimpinan berpikir, ilmu hanya jadi informasi, emosi mudah dipermainkan, dan keputusan diambil berdasarkan tren, bukan kehalalan.

Sekularisme: Mesin Perusak Nilai

Kondisi ini bukan kebetulan. Ada cara pandang yang lama ditanamkan, yaitu memisahkan agama dari urusan kehidupan. Agama diletakkan di ruang pribadi, sementara aturan sosial, ekonomi, politik, dan budaya diserahkan sepenuhnya kepada manusia. Sekilas terlihat memberi ruang kebebasan, padahal dari sinilah kebingungan dimulai.

Ketika agama dipisahkan dari kehidupan, standar benar dan salah tidak lagi tetap. Manusia diberi hak menentukan sendiri makna kebebasan sesuai keinginan masing-masing. Akibatnya, hubungan pria dan wanita tidak lagi dipandang dengan ukuran yang sama. Ada yang melihat batas pergaulan sebagai kehormatan, ada yang menganggapnya kolot. Ada yang menilai menjaga pandangan sebagai kemuliaan, ada yang menertawakannya sebagai keterbelakangan. Benturan nilai menjadi tidak terelakkan lagi.

Dalam dunia kerja, kerusakan yang sama ikut muncul. Sebagian orang memandang kantor sebagai tempat beramal dan menunaikan amanah, tetapi banyak pula yang melihatnya semata arena persaingan bebas. Karena ukuran moral tidak sama, menjilat atasan dianggap strategi, hingga menjatuhkan rekan kerja dianggap kewajaran. Sistem akhirnya membentuk manusia yang sibuk naik tangga, meski harus menginjak orang lain.

Pemisahan agama dan dunia juga membuat umat kehilangan kompas dalam membaca politik global. Penjajahan dikemas sebagai diplomasi, penjarahan sumber daya dibungkus kerja sama, dan lain sebagainya. Karena tidak punya sudut pandang yang bersumber dari akidah, banyak umat menilai konflik dunia hanya dari media yang paling keras bersuara. Akibatnya, siapa penindas dan siapa korban sering tertukar di benak publik.


Saat Islam Mengatur, Kekacauan Berakhir

Islam datang bukan hanya memberi pandangan tatacara ibadah personal atau urusan kain kafan semata, tetapi juga memimpin cara berpikir manusia. Dalam Islam, akal dipakai untuk memahami wahyu, membaca realitas, lalu mengambil keputusan yang sejalan dengan arahan syara'. Karena itu, berpikir tidak dibiarkan liar tanpa arah, tetapi dibimbing agar mengejar ridha Allah.

Ketika berpikir dipimpin oleh akidah Islam, umat memiliki standar yang jelas. Mereka tidak mudah terombang-ambing oleh propaganda, tidak mudah diadu domba, dan tidak gampang menjual prinsip demi keuntungan sesaat. Seorang pekerja akan melihat jabatan sebagai amanah, pedagang melihat harta sebagai tanggung jawab, dan pemimpin melihat kekuasaan sebagai kesempatan untuk melayani rakyat. 

Dalam interaksi pria dan wanita, keduanya dipandang sebagai manusia mulia yang wajib dijaga kehormatannya, sehingga hubungan dibangun dengan batas yang jelas, saling menghormati, dan jauh dari eksploitasi.

Secara realistis, ini menolong umat dalam kehidupan nyata. Konflik sosial dapat diselesaikan dengan hukum yang konsisten, pendidikan membentuk kepribadian bukan sekadar tenaga kerja, ekonomi diarahkan pada kesejahteraan bukan penumpukan kekayaan, dan politik dijalankan untuk mengurus rakyat bukan melayani pemodal. Semua itu lahir dari cara berpikir yang benar, bukan sekadar pergantian tokoh.

Namun arah sebesar ini tidak akan lahir jika Islam hanya dicomot sebagian-sebagian. Selama Islam dibatasi pada ibadah pribadi, sementara negara diatur dengan konsep lain, kerusakan akan terus berulang. Kepemimpinan berpikir hanya bisa tegak jika Islam diterapkan sebagai konsep negara yang mengatur kehidupan secara menyeluruh, bukan parsial.

Khatimah

Saat manusia membuat aturan sendiri, kebingungan akan terus berulang dalam berbagai bentuk. Aturan yang lahir dari hawa nafsu dan kepentingan tidak akan mampu menghadirkan ketenangan bagi masyarakat. Sebaliknya, ketika wahyu dijadikan pedoman, manusia memiliki standar yang jelas dalam menentukan benar dan salah. Dari situlah keadilan akan menemukan jalannya dan kehidupan dapat tertata dengan benar.

Komentar

Kamu Mungkin Suka

Kampus dalam Kendali Kapital

Kenapa Perubahan Berangkat dari Berubahnya Pola Pikir?

Dakwah : Haruskah Main Aman?