Ketika Kapitalisme Menyempitkan Makna Interaksi

 


Ketika Kapitalisme Menyempitkan Makna Interaksi

Oleh : Your Fikrah Mentor

Perhatikan cara kita berinteraksi hari ini. Dimanapun tempat manusia menjalin relasi, hubungan terasa seperti transaksi diam-diam. Kita mendekat karena ada manfaat, bertahan karena ada peluang. Obrolan yang harusnya ringan malah dipenuhi hitung-hitungan di hampir semua lini pembahasan.

"apa yang bisa aku dapat dari orang ini?"

Kita mungkin tidak selalu sadar, tapi kita ikut bermain dalam pola yang sama. Kepedulian jadi bersyarat, bantuan terasa seperti investasi, dan perlahan hubungan kehilangan rasa hangatnya.

Perlu diketahui, pola ini lahir sejak manusia memisahkan agama dari cara mengatur hidup. Dari situlah muncul sekularisme, lalu berkembang menjadi kapitalisme. Awalnya hanya cara melihat ekonomi, tapi hari ini ia ikut mengatur cara kita melihat manusia. Semua dinilai dari untung rugi. Orang dihargai kalau memberi manfaat, dan diabaikan kalau tidak punya nilai. Cara berpikir ini akhirnya membentuk kebiasaan kita dalam memilih teman, menjaga relasi, bahkan menentukan siapa yang layak kita dekati.

Akibatnya, kita tidak benar-benar menjauhi interaksi, tapi menghindari para pengambil. Kita takut dimanfaatkan, takut dirugikan. Dari situ kita mulai menjaga jarak, membatasi diri, atau hanya bergaul dengan orang yang dianggap menguntungkan. Rasa sepi muncul di tengah banyaknya orang. 

Interaksi jadi sempit, hanya berputar pada mereka yang punya nilai. Sementara itu, segelintir orang yang dianggap kuat bisa lebih bebas bertindak, bahkan cenderung semena-mena. Semua ini terjadi karena pandangan hidup —terutama perihal berinteraksi— kini dibuat oleh manusia sendiri, yang aturan serta konsekuensinya bisa kita rakit sendiri sesuai nafsu tanpa terikat lagi pada tuntunan Allah.

Mengapa Jalan Keluarnya adalah Islam?

Islam hadir membawa solusi menyeluruh bagi kebutuhan manusia, termasuk kebutuhan untuk berinteraksi dengan benar. Adapun tentang ketegasan paradigmanya, firman Allah swt.:

“Dan taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian bercerai-berai sebab kalian akan gagal dan hilang kekuatan kalian.” (T.Q.S. Al-Anfal: 46). 

Ayat ini menerangkan bahwa perpecahan dalam hubungan akan melemahkan manusia, sehingga kebersamaan harus dijaga.

Juga dalam ayat yang lain, terjemahannya:

“Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian lain...” (TQS. At-Taubah: 71). 

Artinya, hubungan bukan soal mengambil, tapi saling menolong. Dan tolong menolong tidak mungkin terjadi tanpa interaksi. Jadi, manusia memang diciptakan untuk terhubung, bukan untuk saling curiga. Wajar jika hari ini banyak orang merasa tidak nyaman, karena sistem yang ada justru menghambat naluri itu.

Selanjutnya Islam tidak hanya berbicara hubungan personal, tapi juga gerakan bersama. “Hendaklah ada di antara kalian ada segolongan umat yang menyerukan kebaikan (Islam) dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Mereka itulah kaum yang beruntung” (T.Q.S. Ali Imran 104). Ini menunjukkan bahwa interaksi harus aktif, saling mengajak pada kebaikan, bukan sekadar saling kenal.

Hal ini diperkuat dengan sabda Nabi. "Orang yang menunjukkan kepada kebaikan, ia bagaikan mengerjakannya" (HR. Muslim). Ini mendorong setiap orang untuk terlibat, bukan diam. 

Kemudian Nabi saw. juga ikut menegaskan gambaran hubungan itu.

“Permisalan seorang mukmin dengan mukmin yang lain itu seperti bangunan yang menguatkan satu sama lain.” (HR. Bukhari no. 6026 dan Muslim no. 2585). Artinya, hubungan dalam Islam adalah saling menguatkan, bukan saling memanfaatkan.

Maka, benarlah ketika Allah berfirman, “Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (T.Q.S. Al-Anbiya ayat 107), rahmat ini bukan sekadar kata. Ia hadir dalam bentuk aturan yang bisa diterima akal dan menenangkan hati. Islam tidak membuat manusia hidup dalam kecurigaan, tapi dalam rasa aman. Ia mengembalikan manusia pada fitrahnya untuk saling membantu dan saling menguatkan.

Komentar

Kamu Mungkin Suka

Kampus dalam Kendali Kapital

Kenapa Perubahan Berangkat dari Berubahnya Pola Pikir?

Dakwah : Haruskah Main Aman?