Harga Nyawa Makin Murah, Karena Hukum Sanksi Makin Murahan


Harga Nyawa Makin Murah, Karena Hukum Sanksi Makin Murahan

Oleh: Siti Rima Sarinah

Aksi kekerasan semakin hari semakin marak terjadi, baik dilakukan oleh para pelajar maupun orang dewasa. Aksi kekerasan ini kerap kali mengakibatkan melayangnya nyawa seseorang karena hal yang sepele. Seakan menghilangkan nyawa seseorang menjadi jalan satu-satunya untuk menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Entah sudah berapa banyak kasus kekerasan yang memenuhi daftar panjang kasus kekerasan di negeri ini, dan hingga kini kasus kekerasan terus terjadi serta tidak menjadikan pelakunya jera untuk melakukan hal yang serupa.

Bogor merupakan salah satu kota yang marak aksi kekerasan. Baru-baru ini aparat kepolisian menangkap tiga pelaku yang diduga melakukan pembacokan yang mengakibatkan seorang pemuda harus meregang nyawa. Korban pembacokan yang merupakan warga Ciomas dinyatakan meninggal setelah mengalami luka bacok di bagian bahu kanan, punggung, dan pinggul. Polisi berhasil menangkap para pelaku, yang ternyata salah satunya merupakan seorang pelajar SMK, sedangkan dua pelaku lainnya diketahui merupakan residivis kasus pencurian dengan kekerasan atau begal pada 2024. (Antaranews, 15 Juni 2026).

Harga Nyawa Makin Murah

Kasus kekerasan yang mengakibatkan korbannya meninggal dunia menambah deretan panjang kejahatan di negeri ini yang dilakukan oleh seorang pelajar. Aksi tawuran yang lekat dengan kehidupan para pelajar telah banyak menelan korban jiwa. Tawuran yang berujung pada kekerasan terkadang dipicu oleh hal-hal sepele yang sebenarnya dapat diselesaikan melalui diskusi untuk mencari solusi terbaik. Namun sayangnya, jalan ini tidak dipilih. Sebaliknya, mereka memilih menghabisi nyawa pihak lawan. Bahkan, bagi sebagian pelaku, menghilangkan nyawa lawan menjadi sebuah kebanggaan.

Aksi kekerasan menjadi potret buram kehidupan pelajar di negeri ini. Mereka kehilangan kepekaan dan kepedulian sehingga tanpa rasa iba tega menghilangkan nyawa seseorang. Seakan-akan nyawa manusia tidak lagi memiliki nilai, dan membunuh dianggap sebagai solusi untuk menyelesaikan persoalan.

Hilangnya nyawa seseorang bukan hanya akibat tawuran, melainkan juga karena aksi kejahatan seperti begal dan perampokan yang kerap menghabisi nyawa korban demi mengambil harta bendanya. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi persoalan ini. Namun, bukannya mengalami penurunan, kasus kekerasan justru semakin marak dan masif terjadi.

Hal ini terjadi karena lemahnya sanksi hukum yang diterapkan di negeri ini bagi pelaku kejahatan. Sebab, berbagai tindak kejahatan umumnya hanya dijatuhi sanksi penjara dengan masa hukuman yang berbeda-beda. Mirisnya, masa hukuman tersebut bisa berubah jika uang berbicara. Pelaku pembunuhan maupun korupsi dapat memperoleh hukuman yang jauh lebih ringan. Hukum di negeri ini dinilai tidak sepenuhnya ditegakkan untuk menjaga nyawa manusia, melainkan dapat dipengaruhi oleh kepentingan tertentu sehingga sanksi bisa diringankan, bahkan pelaku dapat memperoleh kebebasan.

Kapitalisme Biang Kerok

Kondisi rusak ini dianggap sebagai konsekuensi dari sistem yang berorientasi pada keuntungan materi (kapitalisme). Demi memperoleh keuntungan, seseorang dapat melakukan apa saja, termasuk menghilangkan nyawa orang lain. Fenomena ini dinilai tidak hanya dilakukan oleh rakyat, tetapi juga dicontohkan oleh para penguasa dan pejabat.

Berbagai aturan dan kebijakan dinilai justru menyulitkan rakyat. Sebagai contoh, kebijakan pemutusan BPJS Kesehatan membuat masyarakat semakin sulit memperoleh layanan kesehatan. Harga kebutuhan pokok semakin sulit dijangkau akibat melemahnya nilai rupiah dan ketergantungan terhadap dolar. Alih-alih menyediakan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau, negara dinilai justru menaikkan harga BBM dan meningkatkan beban pajak masyarakat.

Memuliakan Nyawa Manusia Butuh Sistem yang Benar

Dalam hukum Islam, tidak ada alasan bagi siapa pun menghilangkan nyawa manusia tanpa hak karena hal tersebut merupakan kejahatan besar. Pelakunya akan memperoleh sanksi yang setimpal sebagai bentuk penjagaan terhadap nyawa manusia. Dengan demikian, seseorang tidak akan mudah menghilangkan nyawa orang lain hanya karena persoalan sepele.

Setiap persoalan hendaknya diselesaikan dengan solusi yang benar, bukan berdasarkan akal manusia yang terbatas. Sebab, ketika manusia diberi kewenangan membuat hukum menurut pandangan penulis, hal itu dapat membuka peluang terjadinya berbagai bentuk kejahatan dan kezaliman.

Menurut pandangan penulis, sistem yang mampu menjaga dan memuliakan nyawa manusia adalah sistem yang berasal dari Allah Swt., yaitu Islam. Islam dipandang memiliki seperangkat aturan yang lengkap sebagai solusi atas berbagai persoalan kehidupan manusia. Ketika sistem tersebut diterapkan, menurut penulis, kejahatan dan kezaliman dapat dicegah, sementara sanksi ditegakkan secara adil tanpa membedakan rakyat, penguasa, maupun pejabat.

Dengan mekanisme sistem yang benar, menurut pandangan penulis, kondisi negeri akan menjadi lebih baik. Sistem yang baik akan melahirkan rakyat dan penguasa yang baik, sedangkan sistem yang batil akan menghasilkan rakyat dan penguasa yang jahat serta zalim.

Wallāhu a'lam.






 

Komentar

Kamu Mungkin Suka

Kampus dalam Kendali Kapital

Kenapa Perubahan Berangkat dari Berubahnya Pola Pikir?

Dakwah : Haruskah Main Aman?