(Khutbah Jum'at) Tidak Pernah Aman di Bawah Sistem Zalim
Khutbah Jumat
Tidak Pernah Aman di Bawah Sistem Zalim
Oleh : Hadi Irfandi, S. Pd.
Khutbah Pertama
الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
Amma ba’du.
Jama'ah Jum'at rahimakumullah, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah سبحانه وتعالى dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa bukan hanya dalam ibadah pribadi, tetapi juga dalam cara kita membaca keadaan, menolak kezaliman, dan menegakkan kebenaran sesuai tuntunan Allah.
Jama'ah yang dimuliakan Allah,
Kita menyaksikan harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja makin sempit, ketimpangan sosial melebar, dan konflik di dunia Islam terus berulang. Yang paling merasakan beban adalah rakyat kecil. Pedagang kehilangan pembeli, buruh hidup dalam ketidakpastian, petani terhimpit biaya, dan generasi muda menatap masa depan dengan kecemasan.
Semua itu tidak lahir begitu saja. Di baliknya ada keputusan politik dan sistem yang mengatur kehidupan manusia. Karena itu, Islam tidak membiarkan umat buta terhadap urusan politik. Politik dalam Islam adalah ri’ayah asy-syu’unin nas, yakni mengurus umat dengan hukum Allah, bukan sekadar perebutan kekuasaan dan bukan alat kepentingan golongan.
Karena itu, tidak pernah ada rasa aman di bawah sistem zalim. Ketika aturan dibuat lebih melindungi modal besar daripada rakyat kecil, yang lemah akan terdesak. Ketika hukum bisa tajam kepada rakyat biasa tetapi lunak kepada yang berkuasa, kepercayaan masyarakat hancur. Ketika kebutuhan pokok diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar tanpa perlindungan yang adil, keluarga miskin akan menjadi korban pertama. Kezaliman tidak selalu berbentuk kekerasan terbuka. Kadang ia hadir dalam bentuk kebijakan yang terlihat resmi tetapi menyulitkan kehidupan banyak orang.
Jama'ah rahimakumullah,
Di tingkat dunia, keadaan serupa juga terjadi. Hari ini negara-negara Barat masih menempati posisi sebagai negara adidaya dan negara-negara besar yang menentukan banyak arah kebijakan global. Mereka memiliki kekuatan ekonomi, militer, teknologi, dan pengaruh diplomatik. Sementara itu, banyak negeri muslim justru berada pada posisi pengikut atau negara satelit yang bergantung kepada mereka. Sebagian penguasa di negeri-negeri muslim menjalin ketergantungan kepada kekuatan besar demi mempertahankan kekuasaan, bukan demi kemaslahatan umat.
Di sinilah pemikiran politis dibutuhkan. Bukan agar setiap orang sibuk berebut jabatan, tetapi agar umat tidak tertipu oleh penampilan. Umat harus mampu memahami mengapa harga pangan mudah naik, mengapa kebijakan sering tidak berpihak kepada rakyat, mengapa konflik di negeri-negeri muslim terus berulang, dan mengapa sebagian penguasa lebih cepat patuh kepada tekanan luar daripada jeritan rakyatnya sendiri. Tanpa pemahaman seperti ini, umat hanya marah pada gejala tetapi tidak melihat akar masalah.
Namun pemikiran itu harus dipandu oleh Islam. Jika tidak, manusia akan menilai segala sesuatu hanya dengan untung rugi sesaat. Yang penting citra baik di luar negeri walau rakyat menderita di dalam negeri. Karena itu, ukuran seorang muslim adalah halal dan haram, adil dan zalim, sesuai syariat atau menyimpang darinya.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang yang di luar kalanganmu (seagama) sebagai teman kepercayaanmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. Sungguh, telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu mengerti.”
(TQS Ali Imran [3]: 118)
Ayat ini mengajarkan agar umat tidak naif membaca realitas global. Negara besar bertindak berdasarkan kepentingannya. Karena itu, umat yang menyerahkan arah hidupnya kepada pihak luar sedang menyiapkan masalah baru bagi dirinya sendiri. Umat tidak boleh tertipu oleh pergantian blok kekuatan.
Jama'ah sekalian yang berbahagia,
Keadilan tidak akan lahir jika Islam hanya diambil sisi ritualnya, sementara aturan ekonomi, politik, dan hukumnya dibuang. Persoalan umat tidak akan selesai hanya dengan mengganti tokoh, selama sistemnya tetap rusak. Sebab kerusakan yang terstruktur membutuhkan perubahan yang mendasar.
Maka kewajiban kita hari ini adalah menumbuhkan kesadaran, mempelajari Islam secara kaffah (menyeluruh), mendidik keluarga dengan pemahaman yang benar, serta mendukung setiap ikhtiar yang mengembalikan kehidupan kepada hukum Allah. Jangan menjadi umat yang hanya mengeluh terhadap gejala, tetapi lalai melihat akar masalahnya.
أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
Khutbah Kedua
الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه كما يحب ربنا ويرضى. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
Jama'ah Jum'at rahimakumullah,
Marilah kita kembali meneguhkan ketakwaan kepada Allah سبحانه وتعالى.
Jangan biarkan diri kita sibuk dengan urusan pribadi tetapi buta terhadap nasib umat. Jangan puas menjadi penonton ketika kezaliman terus dipelihara. Bangun kepedulian, perkuat ilmu, dan jadikan Islam sebagai pedoman hidup dalam seluruh aspek kehidupan.
Semoga Allah memperbaiki keadaan kaum muslimin, mengangkat kezaliman dari negeri-negeri mereka, menyatukan hati mereka di atas kebenaran, dan menganugerahkan pemimpin yang takut kepada-Nya serta berhukum dengan syariat-Nya.
Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari kezaliman, melapangkan rezeki rakyat, memperbaiki para pemimpin, dan menuntun negeri-negeri kita kepada keadilan yang diridhai-Nya.
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات
اللهم أصلح ولاة أمور المسلمين
اللهم ارزقنا رزقًا حلالًا طيبًا واسعًا
اللهم اكشف الظلم عن المظلومين في كل مكان
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون
فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.

Komentar
Posting Komentar