(Khutbah Jum’at) Umat Bersatu di Masjid, Terpecah di Kekuasaan


(Khutbah Jum’at) Umat Bersatu di Masjid, Terpecah di Kekuasaan

Oleh : Hadi Irfandi, S. Pd.


Khutbah Pertama

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah yang telah menyatukan hati-hati kita dalam iman. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Ketakwaan bukan hanya tampak dalam ibadah yang kita lakukan, tetapi juga dalam cara kita memahami dan merespons realitas kehidupan umat hari ini.

Sebentar lagi kita berdiri dalam satu saf. Bahu kita saling bersentuhan, kaki kita dirapatkan, dan hati kita diarahkan pada satu kiblat yang sama. Namun, setelah kita keluar dari masjid ini, kita tidak lagi satu dalam arah, tidak lagi satu dalam keputusan, bahkan tidak lagi satu dalam kepentingan.

Padahal dahulu, umat ini pernah memiliki satu ikatan politik yang menyatukan. Dengan segala kekurangannya, umat tetap berada dalam satu payung yang mengatur urusan perang dan damai, hubungan luar negeri, dan perlindungan wilayah. Akan tetapi, ketika sistem itu dihapus, bukan hanya kekuasaan yang hilang tapi juga arah bersama umat.

Akibatnya, kaum Muslimin yang sebelumnya satu tubuh berubah menjadi bagian-bagian yang terpisah. Wilayah-wilayah dipisahkan oleh batas buatan penjajah, dan setiap bagian dipaksa berjalan sendiri-sendiri. Sejak saat itu, umat tidak lagi berpikir sebagai satu kesatuan, melainkan sebagai kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan masing-masing.

Lebih jauh lagi, kondisi ini melahirkan realitas yang kita rasakan hari ini. Ketika satu negeri Muslim mengalami krisis, negeri lainnya tidak benar-benar bergerak sebagai satu tubuh. Ketika satu wilayah diserang, yang lain hanya menjadi penonton atau sekadar mengeluarkan pernyataan. Seolah-olah penderitaan itu bukan penderitaan bersama.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.” 

(HR. Bukhari dan Muslim)

Namun, pertanyaannya apakah kita masih merasakan itu sebagai satu tubuh, ataukah kita sudah terbiasa hidup sebagai bagian-bagian yang terpisah?

Kemudian, kita melihat ironi yang lebih dalam. Umat ini memiliki kekayaan yang besar, sumber daya yang melimpah, dan jumlah yang tidak sedikit. Akan tetapi, semua itu tidak menjadi kekuatan yang nyata. Mengapa? Karena tidak ada arah bersama yang menyatukan potensi tersebut.

Di sisi lain, keputusan-keputusan penting sering kali tidak lahir dari kepentingan umat sendiri, melainkan mengikuti tekanan dan kepentingan kekuatan luar. Akibatnya, umat ini tampak besar, tetapi tidak berdaya.

Karena itu, kita perlu renung kembali apakah masalah utama umat hari ini adalah kekurangan sumber daya, atau justru ketiadaan persatuan dalam pengambilan keputusan?

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Islam tidak hanya mengajarkan kita bagaimana beribadah secara individu, tetapi juga bagaimana membangun kehidupan bersama. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga hubungan manusia dengan sesamanya, termasuk dalam urusan kepemimpinan, keadilan, dan pengelolaan masyarakat.

Maka, ketika umat hanya bersatu dalam ibadah tetapi terpecah dalam urusan kehidupan, di situlah muncul krisis yang kita saksikan hari ini.

Aqoolu qawli hadza, wa astaghfirullahu li wa lakum…

Khutbah Kedua

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah ﷺ.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Jika kita renungkan, Ramadan mengajarkan kita tentang persatuan. Kita berpuasa di waktu yang sama, berbuka di waktu yang sama, dan merasakan lapar yang sama. Ini menunjukkan bahwa umat ini sebenarnya mampu bersatu.

Namun, persatuan itu sering berhenti pada sisi spiritual, tidak berlanjut pada sisi kehidupan yang lebih luas. Akibatnya, muncul jurang antara apa yang kita yakini dengan apa yang kita jalani.

Oleh karena itu, kesadaran harus dimulai dari diri kita masing-masing. Kita perlu memahami bahwa persatuan umat adalah kebutuhan yang nyata. Tanpa persatuan arah, energi umat akan terus terpecah, seberapa besar pun jumlah dan potensinya.

Selanjutnya, kita juga harus mulai peduli terhadap urusan umat secara lebih luas. Tidak cukup hanya menjadi Muslim yang baik secara pribadi, tetapi juga harus memiliki kepedulian terhadap kondisi umat secara keseluruhan.

Dan yang tidak kalah penting, kita harus membangun cara berpikir yang tidak sempit. Kita harus mulai melihat umat sebagai satu kesatuan, bukan sekadar bagian dari kelompok kecil atau batas wilayah tertentu.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Akhirnya, marilah kita berdoa kepada Allah agar menyatukan hati-hati kaum Muslimin, memperbaiki keadaan mereka, dan memberikan mereka arah yang jelas dalam menjalani kehidupan.

اللهم أصلح أحوال المسلمين، ووحد صفوفهم، واربط على قلوبهم، واهدهم إلى الطريق المستقيم.

عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان…
فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.





Komentar

Kamu Mungkin Suka

Kampus dalam Kendali Kapital

Kenapa Perubahan Berangkat dari Berubahnya Pola Pikir?

Dakwah : Haruskah Main Aman?