Mengapa Menata Hidup Mulainya dari Menata Fikrah?


Mengapa Menata Hidup Mulainya dari Menata Fikrah?

Oleh : Your Fikrah Mentor

Dari mana asalnya?

Kita semua butuh rasa aman. Bukan karena kita lemah, tapi karena itu sudah menjadi bawaan sejak lahir.

Manusia dibekali potensi hidup berupa naluri (gharizah) dan kebutuhan jasmani (hajatul 'udhwiyah). Salah satunya adalah naluri mempertahankan diri (gharizatul baqa). Wujudnya sederhana, kita ingin keadaan tidak berubah-ubah secara tiba-tiba.

Dari naluri inilah lahir kebutuhan akan kendali. Sayangnya, kita tidak bisa menghentikan itu namun hanya dapat disalurkan.

Lalu apa gunanya berusaha mengendalikan hidup? Sebelum lebih dalam aku kupas, terimalah dulu bahwa banyak hal dalam hidup sejatinya sudah di luar kendali. Bukan menyerah. Tapi sadar batas. Setelah itu, barulah kita bisa memfokuskan seluruh energi untuk mengelola hal-hal yang benar-benar bisa kita kendalikan.

Mulainya dari mana? dong!

Banyak orang merasa hidupnya kacau bukan karena masalahnya besar. Tapi karena mereka tidak tahu harus mulai dari mana. Pikiran mereka sudah lebih dulu kalah sebelum tubuh bergerak.

Inilah empat langkah yang selama ini aku praktikkan hasil dari mencoba, gagal, dan memperbaiki terus.

Pertama, pahami dulu, jangan hanya ikut-ikutan.

Kalau kamu tidak paham situasi yang sedang kamu hadapi, wajar kalau kamu merasa kehilangan kendali. Coba bayangkan kamu masuk ke ruangan gelap tanpa pernah tahu letak saklarnya. Pasti panik, kan? Tapi kalau kamu sudah tahu persis di mana saklar, pintu, dan jendelanya, kegelapan tidak lagi menakutkan.

Sama dengan hidup. Semakin banyak kamu memahami, semakin sedikit ketidakpastian di sekitarmu. Semakin sedikit ketidakpastian, semakin besar rasa kendali yang kamu miliki.

Dalam buku Hakikat Berpikir karya Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, beliau menjelaskan bahwa pemikiran tidak akan lahir hanya dari penginderaan saja. Penginderaan yang diulang ribuan kali tetap hanya penginderaan, kalau tidak disertai informasi terdahulu (ma'lumat sabiqah) yang digunakan untuk menafsirkan fakta. Artinya, kamu tidak akan pernah benar-benar paham suatu masalah kalau kamu tidak punya bekal pengetahuan sebelumnya tentang masalah itu.

Ambil contoh personal brandingku sebagai penulis dakwah politik. Aku tidak tiba-tiba bisa mengkritik kebijakan atau menulis opini tentang kerusakan sosial yang sistemik. Sebelum itu, aku harus paham dulu bagaimana Islam memandang keadilan sosial? Lalu apa itu sekularisme dan kenapa aku mengkritiknya? Kemudian siapa yang diuntungkan ketika umat tidak kritis?

Tanpa pemahaman itu, tulisanku hanya akan memicu emosi pembaca semata. Sama seperti hidup kamu tanpa pemahaman, hanya akan jadi sekadar reaksi terhadap keadaan atau terombang ambing bagai debu yang beterbangan.

Kedua, saatnya hantam!

Banyak yang gugur disini. Sudah tahu alurnya, tapi tidak pernah bertindak. Mereka nyaman di posisi "saya sudah paham". Padahal pemahaman tanpa eksekusi hanya akan membuatmu semakin frustrasi karena kamu tahu masalahnya tapi tidak mengambil langkah.

Kalau kamu sudah tahu caranya, kerjakan. Kalau kamu mengerjakannya, kamu tidak perlu khawatir berlebihan. Sekali lagi, ini soal mengurangi ketidakpastian. Tindakan adalah obat paling mujarab untuk rasa cemas yang berkepanjangan.

Ketiga, hajar lagi dan lagi!

Konsistensi adalah langkah terakhir yang sering dilompati orang. Mereka sudah paham, sudah bertindak, tapi hanya sekali. Lalu ketika hasilnya tidak langsung kelihatan, mereka putus asa dan kembali ke pola lama.

Dua langkah pertama sudah menuntunmu ke jalan yang benar. Yang perlu kamu lakukan sekarang hanyalah mengulanginya. Toh, membangun pemikiran yang kuat itu butuh waktu. Tidak ada yang instan kecuali mie. Setiap pengulangan akan membuatmu semakin paham arah, juga membawamu makin dekat dengan ujung jalan.

Keempat, jadikan menulis sebagai alat untuk merapikan semuanya.

Ini langkah tambahan yang aku rasa wajib. Kenapa? Karena tanpa menulis, pikiranmu hanya akan berputar-putar di tempat yang sama.

Coba saja. Tulis satu masalah yang sedang kamu hadapi. Lalu tulis apa yang kamu pahami tentang masalah itu. Lalu tulis langkah apa yang sudah dan akan kamu lakukan. Kamu akan kaget betapa menulis bisa membuat pikiran yang kusut menjadi jauh lebih teratur.

Sampai juga kamu di ujung, yaaa~

Banyak orang sibuk mengeluh karena merasa tidak punya kendali, padahal sekarang cara mengurangi ketidakpastian dalam hidup sudah ada metodenya.

Karena pada akhirnya, yang membedakan antara orang yang hanya ikut arus dengan orang yang punya pendirian bukanlah seberapa pintar mereka. Tapi seberapa berani mereka mengambil kendali atas pikirannya sendiri, lalu menuliskan apa yang mereka yakini.

Sekarang, kamu punya dua pilihan. Terus membaca tulisan semacam ini tanpa pernah berubah, atau mulai menerapkannya detik ini juga.


Komentar

Kamu Mungkin Suka

Kampus dalam Kendali Kapital

Kenapa Perubahan Berangkat dari Berubahnya Pola Pikir?

Dakwah : Haruskah Main Aman?