Refleksi Muharram 1448 H: Dimanakah Umat Terbaik Itu?



Refleksi Muharram 1448 H: Dimanakah Umat Terbaik Itu?

Oleh: Amila Shaliha

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, melakukan amar makruf nahi mungkar dan mengimani Allah.” (QS. Ali Imran: 110)

Pada ayat tersebut Allah menyebut bahwa umat Islam adalah umat terbaik. Allah pun memberikan penjaminan atas kekuasaan dan kemenangan Islam di muka bumi. Namun, jika kita melihat realitas hari ini, sudah tampakkah gambaran umat terbaik itu?

Potret Umat di Tengah Krisis

Umat Islam di berbagai penjuru dunia masih diselimuti beragam persoalan. Pada skala internasional, genosida di Gaza terus berlangsung. Kesepakatan dan gencatan senjata sering kali tidak lebih dari janji yang tak terwujud. Serangan militer berkepanjangan, blokade bantuan kemanusiaan, kelaparan, dan hancurnya fasilitas umum telah menciptakan krisis kemanusiaan yang sangat berat.

Di Sudan, kondisi tak kalah memprihatinkan. Demikian pula etnis Muslim Rohingya yang terusir dari tanah kelahirannya dan hidup tanpa status kewarganegaraan yang jelas.

Indonesia dan Rapuhnya Bangunan Moral

Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Namun, berbagai persoalan masih mengemuka. Kemiskinan struktural tetap menjadi kenyataan bagi jutaan penduduk. Kesenjangan ekonomi terus melebar di tengah melimpahnya sumber daya alam.

Pada saat yang sama, praktik judi online semakin marak. Pelakunya banyak berasal dari kelompok usia produktif. Kasus prostitusi anak, perundungan, eksploitasi seksual, tawuran, pembunuhan, kekerasan dalam rumah tangga, penyalahgunaan narkoba, dan berbagai tindak kriminal lainnya menunjukkan rapuhnya fondasi moral masyarakat.

Krisis Sistemik, Bukan Sekadar Individu

Berbagai persoalan tersebut menunjukkan adanya krisis multidimensi yang mencakup sektor ekonomi, hukum, sosial, hingga keluarga.

Islam dan kaum Muslim sejatinya memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak peradaban. Jika kenyataannya justru sebaliknya, maka akar masalahnya bukan semata pada individu, melainkan pada sistem kehidupan dan tata nilai yang mendominasi dunia saat ini, yaitu kapitalisme-sekuler.

Kapitalisme-Sekuler dan Kerusakan Sosial

Islam pernah melahirkan peradaban gemilang selama berabad-abad. Namun, setelah Barat bangkit dan melancarkan berbagai serangan fisik maupun pemikiran, sumber kekuatan umat perlahan dilemahkan.

Kapitalisme-sekuler menempatkan manusia sebagai pemegang kedaulatan tertinggi dalam menetapkan hukum, sementara agama dipisahkan dari kehidupan publik. Akibatnya, standar benar dan salah menjadi subjektif dan bergantung pada kepentingan manusia.

Ketika manfaat materi menjadi ukuran utama, halal dan haram tidak lagi menjadi pertimbangan pokok. Berbagai bentuk kemaksiatan dan kerusakan sosial pun terus berkembang.

Makna Hijrah yang Sesungguhnya

Momentum Muharram mengingatkan kembali makna hijrah. Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perpindahan dari dominasi hukum jahiliah menuju penerapan hukum Allah.

Karena itu, hijrah hari ini tidak cukup dimaknai sebagai perbaikan moral dan ibadah individu semata. Hijrah juga berarti memperjuangkan penerapan Islam secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan.

Meneladani Metode Perubahan Rasulullah SAW

Sejarah menunjukkan bahwa Rasulullah SAW melakukan perubahan secara bertahap, terarah, dan terorganisasi. Beliau membina para sahabat di Darul Arqam, membentuk kader dakwah, serta membangun kepribadian Islam yang kokoh.

Ketika perintah dakwah terbuka datang, Rasulullah SAW dan para sahabat menyampaikan Islam secara terang-terangan. Mereka juga melakukan berbagai langkah politik untuk memperoleh dukungan yang memungkinkan tegaknya penerapan Islam secara sempurna.

Semua itu dilakukan melalui aktivitas jamaah dakwah yang berlandaskan wahyu Allah SWT.

Arah Perubahan yang Diperjuangkan

Perubahan yang dibutuhkan umat saat ini bukan sekadar pergantian pelaku dalam sistem yang sama, melainkan perubahan yang mendasar terhadap sistem kehidupan.

Pembinaan umat, penyampaian gagasan Islam, kritik terhadap kebijakan yang bertentangan dengan syariat, serta perjuangan pemikiran menghadapi ide-ide sekuler menjadi bagian dari jalan perubahan tersebut.

Harapan Kebangkitan Umat

Sejarah mencatat bahwa di bawah naungan Khilafah, Baitul Maqdis pernah dibebaskan oleh Salahuddin Al-Ayyubi, ilmu pengetahuan berkembang pesat, dan keadilan sosial terwujud.

Muharram hendaknya menjadi momentum refleksi bahwa berbagai kesulitan yang menimpa umat bukanlah takdir yang diterima tanpa ikhtiar. Umat Islam perlu berkomitmen untuk mengembalikan kemuliaan Islam dan memperjuangkan kebangkitan yang berlandaskan syariat Allah SWT.

Hanya dengan kembali kepada sistem Islam yang berasal dari Allah, janji-Nya untuk menjadikan umat ini sebagai khayru ummah dapat terwujud kembali.

Wallahu a'lam bishshawab.

Komentar

Kamu Mungkin Suka

Kampus dalam Kendali Kapital

Kenapa Perubahan Berangkat dari Berubahnya Pola Pikir?

Dakwah : Haruskah Main Aman?