Membangun Safe Haven di Tengah Konflik Internasional


Membangun Safe Haven di Tengah Konflik Internasional
Oleh: Herliana Tri, M.S.P.

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai posisi Indonesia sebagai tempat teraman di dunia apabila terjadi Perang Dunia III menjadi diskusi hangat, termasuk di kalangan akademisi. Pengamat internasional dan akademisi menilai keamanan ini tidak datang begitu saja. Perlu berbagai komponen yang melandasinya (kompasnews.com, diakses 29/4/2026).

Pernyataan Presiden Prabowo ini tepat apabila amannya Indonesia dikaitkan dengan posisinya sebagai God’s Gift, yakni pemberian dan anugerah Allah Swt. atas banyaknya nikmat untuk negeri kaya ini. Berbagai julukan layak disematkan kepada Indonesia, seperti Zamrud Khatulistiwa dengan hamparan hutan hijau dan letak geografisnya, Negeri Seribu Pulau karena kekayaan maritimnya, Paru-paru Dunia berkat hutan hujan tropisnya, hingga Heaven of Earth karena keindahan alamnya yang menakjubkan.

Di sisi lain, posisi Indonesia yang jauh dari pusat konflik dunia saat ini, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah yang berada di Asia Barat, menjadikan Indonesia layak disebut sebagai global safe haven, yakni “tempat berlindung” paling nyaman ketika badai krisis dan perang melanda dunia.

Tempat yang Aman di Saat Krisis

Apabila perang besar yang dikhawatirkan dunia benar-benar terjadi, maka ketahanan energi dan pangan akan menjadi benteng perlindungan bagi sebuah wilayah maupun bangsa. Dalam perang dunia, jalur perdagangan global berpotensi lumpuh akibat disrupsi rantai pasok. Karena itu, negara yang paling aman adalah negara yang mampu “menghidupi dirinya sendiri”.

Kekayaan alam sebagai anugerah Allah Swt. inilah yang menjadikan Indonesia berpotensi menjadi tempat aman. Indonesia memiliki cadangan energi seperti batu bara, gas, dan nikel untuk baterai, serta lahan pertanian yang luas dan subur.

Kemandirian sebagai Syarat Negara Aman

Selama Indonesia mampu mengelola kedaulatan pangannya sendiri, masyarakat tidak akan mengalami dampak mematikan akibat embargo atau pemutusan jalur logistik internasional yang biasanya menghancurkan negara-negara dengan ketergantungan industri tinggi.

Sebaliknya, runtuhnya ekonomi Indonesia dapat terjadi apabila syarat kemandirian ini tidak terpenuhi. Selama Indonesia masih bergantung pada ekspor-impor, maka ekonomi nasional akan terguncang hebat ketika pasar dunia runtuh.

Poin krusial lainnya sekaligus pondasi yang membuat sebuah negara kokoh terletak pada sistem keamanan, kemandirian, dan kualitas kepemimpinan yang dimilikinya. Keamanan hakiki hanya dapat terwujud apabila hukum yang diterapkan bersumber dari Sang Pencipta. Keamanan tidak semata dijaga dengan senjata, tetapi juga melalui sistem yang mampu mencegah kezaliman. Ketika hukum tajam ke bawah namun tumpul ke atas, maka negara tersebut belum dapat disebut aman secara substantif bagi rakyatnya.

Selain itu, kemandirian mutlak menjadi syarat penting bagi keamanan negara. Sebuah negara tidak bisa dikatakan aman apabila kebijakan ekonomi dan politiknya masih didikte oleh kekuatan imperialisme asing. Karena itu, negara harus terbebas dari utang dan intervensi pihak luar. Pengelolaan sumber daya alam harus berada di tangan negara untuk kepentingan rakyat, bukan diserahkan kepada korporasi asing. Jika kekayaan alam dikuasai pihak asing, maka rakyat akan terus merasa terancam secara ekonomi dan tidak dapat menikmati manfaat kemandirian secara nyata.

Di samping itu, pemimpin juga harus berfungsi sebagai al-junnah atau perisai bagi rakyatnya. Negara disebut aman apabila pemimpinnya berani melindungi wilayah dan perbatasan dari ancaman fisik, sekaligus menjaga pemikiran rakyat dari ideologi yang dianggap merusak moral dan tatanan sosial masyarakat.

Sudah saatnya Indonesia yang sejak awal dianugerahi kekayaan luar biasa mampu menjaga dirinya dengan baik. Kemandirian sebuah negara bukan hanya penting, tetapi juga mendesak untuk diwujudkan. Dengan demikian, kata “aman” tidak hanya menjadi jargon atau penenang hati semata, melainkan benar-benar terwujud dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh rakyat.



 

Komentar

Kamu Mungkin Suka

Kampus dalam Kendali Kapital

Kenapa Perubahan Berangkat dari Berubahnya Pola Pikir?

Dakwah : Haruskah Main Aman?