New Age Movement: Ketika Syirik Datang dengan Wajah Modern
New Age Movement: Ketika Syirik Datang
dengan Wajah Modern
Oleh:
Hadi Irfandi, S.Pd. (Peneliti Independen / Pengamat Isu Sosial Kontemporer
ICOMAF)
Syirik
tidak selalu mudah dikenali. Ada bentuk yang terang-terangan, seperti menyembah
patung, meminta pertolongan kepada dewa, atau meyakini adanya kekuatan gaib
yang memiliki kuasa seperti Allah. Namun, ada pula bentuk yang datang melalui
gagasan, istilah, dan cara pandang yang sekilas terdengar sangat spiritual.
Di
sinilah kita perlu mengenal New Age Movement. Gerakan ini membawa
beragam gagasan tentang kesadaran manusia, energi, alam semesta, penyembuhan
batin, dan pencarian makna hidup. Di dalamnya terdapat istilah seperti higher
self, divine spark, cosmic consciousness, awakening, oneness,
aura, chakra, hingga gagasan bahwa manusia memiliki unsur ketuhanan di dalam
dirinya.
Bagi
orang awam, istilah-istilah tersebut mungkin terdengar seperti pembahasan
tentang pengembangan diri. Tetapi bagi seorang Muslim, persoalannya adalah ketika
seseorang mengatakan manusia memiliki unsur ketuhanan, sebenarnya siapa yang
dimaksud dengan Tuhan?
Pintu
Masuk Syirik: Ketika Tuhan Dan Makhluk Disatukan
Memahami
persoalan ini harus dimulai dari pengertian syirik itu sendiri. Syirik bukan
hanya soal berapa banyak patung yang berada di dalam sebuah rumah atau berapa
banyak nama dewa yang disebut dalam sebuah ritual. Intinya adalah memberikan
sesuatu yang menjadi hak Allah kepada selain Allah.
Karena
itu, bentuk syirik bisa berubah mengikuti cara manusia berpikir dan
berkomunikasi. Dulu ia mungkin hadir melalui patung dan simbol yang mudah
dikenali. Sekarang, sebuah gagasan dapat dikemas dalam bahasa filsafat,
spiritualitas, bahkan kesadaran diri.
Sebagian
aliran New Age, misalnya, mengenalkan gagasan bahwa manusia memiliki divine
spark, divine self, atau higher self. Dalam pemahaman
tertentu, manusia tidak hanya dianggap sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan,
tetapi memiliki bagian dari realitas ketuhanan di dalam dirinya. Ada pula
gagasan bahwa manusia, alam, dan Tuhan pada hakikatnya merupakan satu kesatuan
realitas. Di sinilah batas tauhid mulai menjadi persoalan.
Islam
menempatkan hubungan antara Allah dan manusia dengan sangat jelas. Allah adalah
Khaliq, Sang Pencipta. Manusia adalah makhluk, ciptaan-Nya. Alam juga merupakan
ciptaan Allah. Ketiganya tidak boleh dicampuradukkan seolah-olah memiliki
hakikat yang sama.
Allah
berfirman:
“Tidak
ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” (TQS. Asy-Syura: 11)
Ayat
ini bukan sekadar menjelaskan bahwa Allah berbeda dari manusia secara fisik. Ia
juga menegaskan bahwa Allah tidak dapat disamakan dengan ciptaan-Nya. Manusia
tidak memiliki bagian dari zat Allah, sebagaimana alam bukan perwujudan dari
Tuhan.
Karena
itu, kalimat seperti “Tuhan ada di dalam dirimu”, “kita semua adalah Tuhan”,
“manusia merupakan bagian dari energi ilahi”, atau “semua makhluk pada
hakikatnya satu dengan Tuhan” tidak bisa diterima begitu saja oleh seorang
Muslim hanya karena dikemas dalam bahasa yang terdengar bijaksana.
Islam
memang mendorong manusia untuk mengenal dirinya. Bahkan, manusia diperintahkan
untuk merenungkan penciptaan dirinya, alam, dan kehidupan. Namun, mengenal diri
tidak berarti menemukan unsur ketuhanan di dalam diri.
Justru
semakin manusia mengenal dirinya, semakin ia menyadari bahwa dirinya adalah
makhluk yang lemah, terbatas, membutuhkan pertolongan, dan bergantung kepada
Sang Pencipta. Perbedaan ini sangat penting.
Dalam
tauhid, manusia mencari Allah sebagai Rabb, bukan mencari Tuhan yang dianggap
tersembunyi di dalam dirinya. Manusia mendekat kepada Allah sebagai hamba,
bukan berusaha menemukan identitas ilahi dalam dirinya sendiri.
Maka,
ketika sebuah gagasan mengatakan bahwa manusia dan Tuhan pada tingkat hakikat
sebenarnya adalah satu, seorang Muslim perlu berhenti sejenak. Jangan sampai
bahasa spiritual yang indah membuat batas antara Khaliq dan makhluk menjadi
kabur.Sebab ketika batas itu hilang, persoalannya bukan lagi sekadar perbedaan
istilah. Ia sudah menyentuh wilayah akidah.
Wajah
Baru Mistik Di Era Modern
Kalau
kita menelusuri sejarahnya, gagasan tentang dunia gaib, kekuatan tersembunyi,
ramalan, sihir, hubungan manusia dengan alam, dan praktik kebatinan bukanlah
sesuatu yang baru muncul pada abad modern.
Jauh
sebelum istilah New Age dikenal, berbagai masyarakat telah memiliki
tradisi yang menghubungkan kehidupan manusia dengan kekuatan supranatural.
Dukun, pawang, peramal, ahli sihir, dan berbagai kelompok kebatinan pernah
menempati posisi tertentu dalam masyarakatnya masing-masing.
Ketika
agama-agama besar berkembang, tradisi semacam itu tidak otomatis lenyap.
Sebagian bertahan sebagai praktik lokal, sementara sebagian lainnya berkembang
menjadi berbagai aliran pemikiran dan spiritualitas. Dalam sejarah Barat,
misalnya, muncul beragam tradisi mistik dan kebatinan yang kemudian
berinteraksi dengan gagasan keagamaan, filsafat, dan gerakan spiritual
alternatif.
Pada
era modern, berbagai gagasan tersebut kemudian bertemu dengan perkembangan
psikologi populer, meditasi, astrologi, penyembuhan alternatif, gagasan tentang
energi, serta pencarian terhadap kesadaran manusia. Dari pertemuan inilah
istilah New Age semakin dikenal sebagai gambaran bagi berbagai bentuk
spiritualitas alternatif yang menawarkan gagasan tentang perubahan kesadaran
dan lahirnya manusia dengan tingkat kesadaran spiritual yang lebih tinggi.
Salah
satu gagasan yang sering dikaitkan dengannya adalah perpindahan dari Age of
Pisces menuju Age of Aquarius. Dalam narasi astrologi tertentu,
perubahan tersebut dipandang sebagai simbol munculnya zaman baru yang ditandai
oleh kebebasan spiritual, persatuan manusia, perdamaian, penyembuhan holistik,
dan peningkatan kesadaran.
Namun,
perlu dicatat bahwa tidak ada kesepakatan mengenai kapan tepatnya Age of
Aquarius dimulai. Ada yang menghubungkannya dengan dekade 1960-an, ada yang
menunjuk pada perkembangan spiritual pada akhir abad ke-20, sementara yang lain
menempatkannya jauh di masa depan. Yang lebih penting bukan menentukan
tanggalnya, tetapi memahami gagasan yang dibawanya.
New
Age menawarkan sebuah cara pandang yang cenderung menggabungkan
berbagai sumber spiritualitas. Di dalamnya dapat ditemukan pengaruh tradisi
Timur, mistisisme Barat, astrologi, gagasan tentang energi, meditasi, occultism,
serta berbagai konsep tentang kesadaran manusia.
Karena
sifatnya yang sangat beragam, New Age sebenarnya tidak dapat
diperlakukan sebagai satu agama dengan kitab, nabi, atau struktur organisasi
tunggal. Justru karena itulah ia dapat muncul dalam banyak bentuk dan masuk ke
berbagai ruang kehidupan.
Bahasanya
pun mudah berubah mengikuti zaman.
Dulu
berbicara tentang kekuatan gaib. Kini bisa berbicara tentang energi.
Dulu
berbicara tentang dunia spiritual. Kini bisa menggunakan istilah cosmic
consciousness.
Dulu
manusia mencari jawaban melalui perantara kebatinan. Sekarang seseorang dapat
diarahkan untuk mencari jawaban melalui higher self atau “kesadaran
tertinggi” di dalam dirinya.
Perubahan
bahasa inilah yang membuat gagasan tersebut tidak selalu mudah dikenali.
Bagi
umat Islam, persoalannya bukan apakah sebuah istilah terdengar modern atau
kuno. Ukurannya adalah apakah keyakinan tersebut masih menempatkan Allah
sebagai satu-satunya Tuhan dan manusia sebagai hamba-Nya.
Allah
berfirman:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(TQS.
Adz-Dzariyat: 56)
Ayat
ini mengembalikan manusia kepada posisi yang sebenarnya. Kita bukan bagian dari
Tuhan. Kita bukan percikan dari zat Tuhan. Kita bukan Tuhan yang sedang mencari
dirinya sendiri.
Kita
adalah makhluk yang diciptakan untuk beribadah kepada-Nya.
Karena
itu, tantangan umat Islam hari ini bukan hanya mengenali syirik dalam bentuk
yang terlihat. Kita juga perlu mampu membaca gagasan di balik istilah yang
terdengar modern. Sebab perubahan zaman dapat mengubah kemasan, tetapi tidak
otomatis mengubah hakikat sebuah keyakinan.
Dan
di tengah derasnya arus spiritualitas alternatif, pertanyaan paling penting adalah ketika seseorang diminta “menemukan Tuhan di dalam dirinya”,
apakah yang sebenarnya sedang ia menemukan Tuhan, atau justru gambaran tentang
dirinya sendiri yang telah diberi sifat-sifat ketuhanan?

Komentar
Posting Komentar