Niat Sehat yang Berujung Syirik : Sikap Tegas Muslim Terhadap Tren Sunrise Meditation

 


Niat Sehat yang Berujung Syirik : Sikap Tegas Muslim Terhadap Tren Sunrise Meditation

Oleh: Hadi Irfandi, S.Pd.

Peneliti Independen dan Pengamat Sosial Kepemudaan di Islamic Civilization In Malay Archipelago Forum (ICOMAF) 

Latihan fisik yang digabung dengan ketenangan pikiran akhir-akhir ini menjadi tren gaya hidup yang sangat populer di kalangan anak muda Malaysia. Di tengah padatnya rutinitas, banyak orang berbondong-bondong berburu ketenangan jiwa melalui berbagai program relaksasi. Salah satu yang paling diminati saat ini adalah sunrise meditation atau sunrise yoga, sebuah aktivitas pagi yang dikemas sangat cantik sebagai ajang menyambut matahari, melepas stres, dan menyerap energi positif fajar.

Sekilas, tidak ada yang salah dengan kegiatan ini. Orang-orang bangun sebelum subuh, berkumpul di area terbuka, mengatur napas, dan menggerakkan tubuh di bawah sinar matahari pagi. Namun, jika kita mau sedikit lebih jeli membedah apa yang sebenarnya terjadi di balik gerakan dan istilah-istilah keren tersebut, kita akan menemukan sebuah realita yang cukup mengejutkan. Ini bukan lagi sekadar urusan olahraga, melainkan sebuah bentuk ritual kepercayaan yang dibungkus dengan bahasa modern.

Praktik menyambut matahari ini sebenarnya bukan hal baru. Kerangka dasarnya mengakar kuat pada tradisi kerohanian kuno dari India seperti Sandhyāvandana, di mana momen peralihan malam menuju siang dijadikan waktu sakral untuk bermeditasi sambil menghadap ke arah timur. Penghormatan tersebut semakin kentara melalui gerakan Sūrya Namaskār yang secara harfiah berarti penghormatan kepada dewa matahari. Dalam jurnal ilmiah Journal of Ayurveda and Integrative Medicine, dijelaskan bahwa Sūrya Namaskār bukan sekadar olah tubuh, melainkan ritual penghormatan yang memuat bacaan nama-nama dewa matahari, mantram, serta penyelarasan titik energi tubuh.

Di zaman modern seperti sekarang, tradisi spiritual tersebut diolah kembali oleh gerakan New Age agar bisa diterima oleh masyarakat luas tanpa menimbulkan kesan religius dari agama asalnya. Bahasa-bahasa spiritual yang kaku disulap menjadi istilah-istilah populer yang terkesan ilmiah dan netral. Kata surya diganti menjadi solar energy, gerakan penyembahan dikemas sebagai light activation, dan meditasi spiritual dipasarkan dengan istilah mindfulness atau raising vibration. Tanpa disadari, seseorang yang berniat hanya ingin mencari kebugaran tubuh sebenarnya sedang menjalankan satu paket ritual kepercayaan lain.

Bagi seorang muslim, persoalan ini tentu tidak bisa diselesaikan hanya dengan alasan bahwa peserta tidak berniat menyembah matahari. Dalam ajaran Islam, sebuah amalan tidak hanya dinilai dari apa yang ada di dalam hati seseorang, tetapi juga dilihat dari asal-usul, bentuk, dan hakikat dari aktivitas tersebut. Ketika momen terbitnya matahari dijadikan waktu khusus ritual, tubuh diarahkan pada gerakan penghormatan, napas diatur dalam kerangka mistis, serta pikiran diisi dengan mantra atau konsep energi metafizik, maka kegiatan itu telah melompati batas olahraga dan sah memasuki wilayah ibadah.

Secara tegas, Islam melarang umatnya menggantungkan ketenangan jiwa pada ciptaan Allah. Dalam Surah Fussilat ayat 37, Allah mengingatkan bahwa malam, siang, matahari, dan bulan adalah tanda-tanda kekuasaan-Nya. Manusia dilarang keras bersujud atau tunduk kepada matahari maupun bulan, melainkan hanya boleh bersujud kepada Allah yang menciptakan semuanya. Cahaya fajar hanyalah makhluk ciptaan, bukan sumber energi spiritual yang perlu diserap ke dalam jiwa atau digunakan untuk membuka titik-titik energi mistis dalam tubuh.

Islam sendiri sebenarnya telah menyediakan sarana penyucian jiwa dan relaksasi yang sangat sempurna pada waktu fajar. Momen pergantian malam menuju siang dalam Islam tidak diisi dengan ritual menyerap energi alam, melainkan diisi dengan salat Subuh, zikir pagi, doa, serta lantunan ayat suci Al-Qur'an. Semua itu mengarahkan fokus manusia sepenuhnya kepada Sang Pencipta, bukan kepada alam.

Sebagian orang mungkin beralasan bahwa mereka ikut serta karena tidak tahu menahu soal latar belakang mistis di baliknya. Namun, ketidaktahuan tidak lantas membuat suatu hal yang dilarang menjadi boleh. Dalam Surah Al-Israa' ayat 36, Allah melarang kita mengikuti sesuatu yang tidak kita ketahui dasar ilmunya, karena pendengaran, penglihatan, dan hati kita kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Kesadaran akan bahaya terselubung ini juga telah ditegaskan oleh lembaga keagamaan resmi. Fatwa Wilayah Persekutuan Malaysia mengenai yoga dengan tegas menyatakan bahwa praktik yoga yang menggabungkan gerakan fisik dengan mantra, unsur agama lain, dan pemujaan adalah haram. Pada September 2026, Mufti Wilayah Persekutuan kembali mengingatkan bahwa meditasi atau yoga yang membawa konsep energi metafisik serta penghayatan kerohanian luar tidak bisa disamakan dengan olahraga fisik biasa yang netral.

Oleh karena itu, upaya untuk menyelaraskan atau "mengislamkan" sunrise yoga dan sunrise meditation sebenarnya adalah langkah yang keliru. Masalah utamanya bukan terletak pada apakah kita bisa mengganti mantra dengan zikir atau mengubah istilah alam menjadi nama Allah. Masalah intinya adalah keseluruhan kerangka kegiatan tersebut bersumber dari pandangan kerohanian yang bertolak belakang dengan asas tauhid.

Umat Islam tentu sangat bebas untuk berolahraga dan menikmati kesegaran udara pagi. Kita boleh berlari, berjalan santai, melakukan peregangan otot, atau mengagumi keindahan fajar sebagai bentuk syukur atas kebesaran Allah. Namun, menikmati keindahan ciptaan Allah sangat jauh berbeda dengan menjadikan terbitnya matahari sebagai ritual meditasi spiritual. Jangan sampai niat awal kita untuk mendapatkan tubuh yang sehat justru menggiring kita pada perbuatan yang merusak akidah.


Komentar

Kamu Mungkin Suka

Kampus dalam Kendali Kapital

Kenapa Perubahan Berangkat dari Berubahnya Pola Pikir?

Dakwah : Haruskah Main Aman?