Postingan

Kampus dalam Kendali Kapital

Gambar
Kampus dalam Kendali Kapital Oleh : Hadi Irfandi, S. Pd. Rencana pemerintah untuk menutup program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri menandai pergeseran besar arah pendidikan tinggi di Indonesia. Kampus tidak lagi diposisikan sebagai ruang pembentuk cara berpikir dan peradaban, melainkan semakin didorong menjadi penyedia tenaga kerja yang siap pakai. Kebijakan ini berangkat dari kekhawatiran atas tingginya jumlah lulusan sarjana yang tidak terserap dunia kerja. Setiap tahun, sekitar 1,9 juta lulusan perguruan tinggi dihasilkan, namun banyak di antaranya kesulitan mendapatkan pekerjaan karena kompetensi yang tidak sesuai dengan kebutuhan industri. Karena itu, pemerintah berupaya mengurangi kesenjangan tersebut dengan menutup program studi yang dinilai tidak memiliki keterkaitan langsung dengan sektor-sektor prioritas seperti energi, pangan, kesehatan, hingga digitalisasi dan manufaktur maju. Namun demikian, pendekatan ini juga menyederhanakan persoalan. Ketidaks...

Kapitalisme Menyuburkan Dinasti Kekuasaan

Gambar
Kapitalisme Menyuburkan Dinasti Kekuasaan Oleh : Siti Rima Sarinah Aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh masyarakat di depan kantor Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) berakhir ricuh. Sang Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud diduga melakukan praktik Korupsi Kolusi Nepotisme (KKN). Pasalnya, posisi strategi di Kaltim diduduki oleh sanak keluarga Sang Gubernur. Bukan hanya itu, alokasi anggaran daerah senilai Rp 25 miliar untuk renovasi rumah mewah dan isu anggaran mobil dinas senilai Rp 8,5 miliar sang Gubernur membuat masyarakat semakin geram. Ditengah kesulitan yang menghimpit rakyat, dengan mudahnya anggaran daerah digunakan untuk kepentingan sang Gubernur. Spanduk besar yang bertuliskan “Kaltim Darurat KKN”, sebagai bentuk sikap masyarakat Kaltim atas kekesalan mereka dikarenakan sang Gubernur tak mendengar aspirasi rakyatnya. Akibatnya aksi unjuk rasa ini semakin memanas dan diwarnai aksi saling dorong dan lempar antara massa aksi dan aparat kepolisian (liputan6.com, 22/04/2026) Aksi unjuk ra...

(Khutbah Jum'at) Kebangkitan Ummat : Harus Bersama dan Menyeluruh

Gambar
Khutbah Pertama الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله أما بعد، فيا عباد الله، اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Ma’idah ayat 54: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِۦ فَسَوْفَ يَأْتِى ٱللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُۥٓ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلْكَٰفِرِينَ يُجَٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ ٱللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ "Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dij...

Mengapa Menata Hidup Mulainya dari Menata Fikrah?

Gambar
Mengapa Menata Hidup Mulainya dari Menata Fikrah? Oleh : Your Fikrah Mentor Dari mana asalnya? Kita semua butuh rasa aman. Bukan karena kita lemah, tapi karena itu sudah menjadi bawaan sejak lahir. Manusia dibekali potensi hidup berupa naluri (gharizah) dan kebutuhan jasmani (hajatul 'udhwiyah). Salah satunya adalah naluri mempertahankan diri (gharizatul baqa). Wujudnya sederhana, kita ingin keadaan tidak berubah-ubah secara tiba-tiba. Dari naluri inilah lahir kebutuhan akan kendali. Sayangnya, kita tidak bisa menghentikan itu namun hanya dapat disalurkan. Lalu apa gunanya berusaha mengendalikan hidup? Sebelum lebih dalam aku kupas, terimalah dulu bahwa banyak hal dalam hidup sejatinya sudah di luar kendali. Bukan menyerah. Tapi sadar batas. Setelah itu, barulah kita bisa memfokuskan seluruh energi untuk mengelola hal-hal yang benar-benar bisa kita kendalikan. Mulainya dari mana? dong! Banyak orang merasa hidupnya kacau bukan karena masalahnya besar. Tapi karena mereka tidak tahu h...

Guru Tak Lagi Dihormati, Islam Jawaban Hakiki

Gambar
Guru Tak Lagi Dihormati, Islam Jawaban Hakiki Oleh : Hadi Irfandi, S. Pd. Dunia pendidikan kembali dihadapkan pada peristiwa yang memantik keprihatinan publik. Sebuah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan perilaku sejumlah pelajar yang dinilai tidak menghormati gurunya saat berada di dalam kelas. Dalam tayangan tersebut, beberapa siswa tampak mengejek dan menunjukkan gestur jari tengah kepada sosok pendidik yang sedang berada di hadapan mereka. Aksi itu segera memicu reaksi keras dari masyarakat karena dianggap mencederai adab di lingkungan sekolah. (detik.com, diakses 19 April 2026) Berdasarkan informasi yang beredar, kejadian tersebut disebut berlangsung di SMAN 1 Purwakarta, Jawa Barat. Banyak pihak menilai insiden ini bukan sekadar kenakalan remaja biasa, melainkan tanda adanya persoalan serius dalam pembentukan karakter peserta didik. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat menanamkan ilmu sekaligus akhlak justru dipertanyakan efektivitasnya ketika penghormatan kep...

Buku yang Menjual Janji, Bukan Perbaikan Fikrah

Gambar
Buku yang Menjual Janji, Bukan Perbaikan Fikrah Oleh : Your Fikrah Mentor Buku-buku pengembangan diri menjadi bacaan favorit banyak orang karena menawarkan sesuatu yang sedang dicari masyarakat modern, yaitu jalan keluar cepat dari masalah hidup. Di tengah tekanan ekonomi, persaingan kerja, hubungan sosial yang rumit, serta rasa cemas akan masa depan, banyak orang berharap menemukan jawaban praktis melalui buku. Judul-judulnya dibuat sangat menarik, seolah mampu membuka pintu sukses, ketenangan, dan perubahan besar dalam waktu singkat. Dari sinilah daya tarik itu bekerja. Pembaca datang dengan keresahan nyata, lalu disambut oleh janji yang terdengar menenangkan. Namun, banyak buku semacam itu justru menjebak pembacanya pada gambaran hidup yang terlalu sederhana. Dunia digambarkan seakan netral dan selalu memberi hasil baik bagi siapa saja yang berpikir positif. Pembaca diarahkan untuk percaya bahwa semangat, keyakinan diri, dan keberanian mengambil langkah sudah cukup untuk menembus se...

Maraknya Judol, Maraknya Kejahatan: Buah Pahit Kapitalisme

Gambar
  Maraknya Judol, Maraknya Kejahatan: Buah Pahit Kapitalisme Oleh: Amila Shaliha Seorang pemuda berusia 23 tahun di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, tega membunuh ibu kandungnya sendiri setelah sang ibu menolak memberinya sejumlah uang akibat kecanduan judi online. Pelaku yang emosi kemudian menghabisi nyawa korban di rumah, lalu berusaha menghilangkan jejak dengan memutilasi dan membakar jasadnya, serta menguburkan bagian tubuh korban di lokasi berbeda. Ia akhirnya ditangkap polisi kurang dari 24 jam setelah penemuan jasad, dan kini terancam hukuman berat atas perbuatannya. (MetroTVNews, 9 April 2026). Ini bukan kasus pertama dan bukan satu-satunya. Seorang pria berinisial A (30) di Kecamatan Karanggede, Boyolali, nekat melakukan perampokan disertai kekerasan terhadap tetangganya sendiri akibat terlilit utang dari kecanduan judol. Pelaku menyerang seorang ibu hingga luka berat dan membunuh anaknya yang berusia 6 tahun. Setelah itu, ia membawa kabur sepeda motor korban untuk diga...